Pelestari Kitab Kuning di Tengah Megapolitan

680 kali dibaca

Mengasuh pesantren modern di tengah hiruk-pikuk megapolitan tak membuat KH Bahruddin melupakan akar kepesantrenan. Di tengah gemuruh pendidikan modern, KH Bahruddin tetap melestarikan pengajian kitab kuning demi mewariskan nilai-nilai agama, kemanusiaan, dan kebangsaan pada generasi mendatang.

KH Bahruddin lahir di bilangan Kepo Duri, Jakarta Barat, pada 02 Agustus 1968. Saat ini mengasuh Pondok Pesantren Daar El-Hikam, Pondok Ranji, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten.

Advertisements

Setelah lulus sekolah dasar di Duri Petang, Bahruddin muda menempuh pendidikan formal dan nonformal di lingkungan pesantren. Pertama-tema ia mondok di Pesantren Daar El-Qolam Gintung Tangerang sampai 1987. Setelah itu, masuk di Pondok Pesantren Al-Falah, Kebayoran selama setahun hingga 1988.

Selama dua tahun berikut, 1988-1990, KH Bahruddin mengabdi di Madrasag Ibtidaiyah Tanwirul Qulub. Namun, mulai 1990, KH Bahruddin melanjutkan kuliah di Institus Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta —sekarang menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Di kampus ini, KH Bahruddin mengambil jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum Fakultas Syariah dan Hukum.

Setelah memperoleh gelar sarjana dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 1996, KH Bahruddin mengikuti program pendidikan setahun di Ma’had Ali Arba’in Kebayoran Lama, Jakarta.

Baca juga:   Puasa dan Ziarah Kemanusiaan

Secara garis besar, meskipun menempuh pendidikan formal hingga jenjang perguruan tinggi, namun riwayat pendidikan KH Bahruddin sejatinya tidak lepas dari dunia pesantren. Dalam perjalanan pendidikannya, misalnya, KH Bahruddin tidak pernah lepas dari lingkungan dan pendidikan agama model pondok pesantren.

Tercatat, ada beberapa gurunya terbilang dari ulama-ulama berpengaruh. Di antaranya adalah KH Hibatullah Sidiq (pengasuh Pesantren Al-Falah), KH Abdul Hadi (pengasuh Pesantren Al-Falah ), Kiai Cama (kiiai di kampungnya), Kiai Abdul Mudjib Al-Ayyubi (pengasuh Pesantren Al-Husna ), KH Ahmad Rifa’i Arif (pengasuh Pesantren Daar El-Qolam ), KH Buniyamin (Kelapa Dua, Jakarta Barat), dan KH Muhammad Syafi’i Hadzami atau lebih dikenal dengan Mu’allim Syafi’i Hadzami, yang merupakan seorang ulama besar dari Betawi. Bahkan, bisa dikatakan, KH Bahruddin merupakan salah satu santri kesayangan dari ulama yang sering dijukuli sebagai “Sumur yang Tak Pernah Kering” tersebut.

Di wilayah megapolitan Jabodetabek, KH Bahruddin dikenal sebagai ulama yang memiliki ilmu agama mendalam dan menguasai kitab-kitab kuning. Bahkan, sejak remaja, nama KH Bahruddin cukup popular karena sering menjuarai berbagai macam perlombaan kitab kuning.

Baca juga:   Nyai Rahmatun (4): Digandrungi Para Calon Kades

Dengan latar belakang itulah, pada 2010 KH Bahruddin dipercaya menjadi Ketua Dewan Syuro Nahdlatul Ulama (NU) Cabang Pondok Ranji. Selain itu, sejak 2015 hingga kini KH Bahruddin  juga dipercaya untuk menjadi Dewan Hakim MTQ Tangerang Selatan.

Untuk mengamalkan dan mewariskan ilmunya, pada tahun 2000, KH Bahruddin mendirikan Pondok Pesantren As-Sulaimaniyah yang berlokadi di Pondok Ranji, Ciputat Timur, Tangerang Selatan. Kemudian, pada 2007, Pesantren As-Sulaimaniyah berganti nama menjadi Pondok Pesantren Modern Daar El-Hikam.

Melalui pesantren yang santrinya kebanyakan dari kalangan mahasiswa ini, KH Bahruddin berkhidmat untuk mencetak generasi muslim yang berawasan keilmuan dan amal, generasi yang sukses di dunia dan di akhirat, dan generasi yang melestarikan kitab-kitab kuning. Dengan begitu, diharapkan pesantren ini mampu melahirkan generasi muslim yang mengerti ilmu-ilmu agama serta bisa mengikuti perkembangan zaman.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan