Para Pencadu Ilmu

116 kali dibaca

Ilmu pengetahuan seperti halnya sebuah aliran air dengan kesegarannya. Bila seseorang yang telah wusul/hadir dalam pencarian ilmu pengetahuan, maka akan menikmati sensasi seperti halnya pemabuk dengan iringan irama lagu:

فَأُشْرِبَتْ مَعْنٰى ضَمِيْرِ الشَّانِ ☼ فَأُعْرِبَتْ فِي الْحَانِ بِالْأَلْحَانِ

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

“Dan karena cintanya pada Allah, mereka menjadi tenggelam dalam lautan cinta, lupa segala sesuatu yang selain Allah, bagaikan seorang pecandu minuman yang sedang asyik meminumnya dengan diiringi irama lagu-lagu.

Pada tingkatan demikian, maka ilmu akan seperti halnya minuman arak yang membuat seseorang mabuk dan tenggelam dalam kecintaan atas ilmu pengetahuan yang dicarinya. Pada tahapan ini,

ilmu pengetahuan yang ia dapatkan seperti halnya obat dari keresahan dalam jiwanya, dan ia telah menjadi pecandu ilmu.

Nilai yang didapatkan seseorang dari ilmu tidak lagi sekadar pengetahuan semata. Akan tetapi, telah menjadi pemuas hasratnya hingga adiktif dan sakau atas informasi ilmu pengetahuan. Maka, ilmu bagaikan zat adiktif yang mana bila dikonsumsi menimbulkan ketergantungan yang sulit dihentikan. Di sinilah kenikmatan ilmu pengetahuan bagi seseorang yang telah menyelaminya.

Ada beberapa ulama terdahulu yang berada di wilayah ini. Bahkan, saking gandrung pada ilmu pengetahuan, mereka rela membujang sepanjang hidup. Berikut contoh beberapa ulama terdahulu yang membujang karena kecintaannya pada ilmu.

Petama, Ibnu Jarir at-Thobari. Ia adalah Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thobari yang  dilahirkan di Thobaristan pada 224 Hijriah. Ia menyandang sederet gelar, di antaranya Al-Imam Almujtahid, Alhujjah, Almufassir, AlFaqiih, Al-ushuli, An-Naddzor, Al-Muqri, Al-Muarrikh, Al-Lughoqi, Al-‘Arudli, Al-Adiib, Ar-Rawi, As-Sya’ir, Al-Muhaqqiq, dan Al-Mudaqqiq.

Dalam kitab Kunuzul Azdad dikisahkan tentang perjalanan hidup at-Thobari yang tidak pernah menyia-nyiakan satu menit pun dalam hidupnya kecuali untuk hal yang bermanfaat atau memberikan manfaat kepada sesamanya.

Bahkan, dikisahkan, pada satu jam atau kurang sebelum ajal menjemputnya dalam kondisi sakit, at-Thobari masih meminta pena dan lembaran kertas untuk menulis. Kemudian seseorang bertanya kepadanya: “Apakah dalam keadaan seperti ini engkau masih meminta kertas dan pena untuk menulis?”

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan