Nyai Rahmatun (1): Penerobos Sekat Gender

128 kali dibaca

Ini kisah tentang sosok Nyai Rahmatun, perempuan pendakwah yang mampu mengangkat marwah kaumnya di tengah-tengah masyarakatnya yang patriarkis. Ia akan terus menjadi sosok inspiratif bagi perempuan Madura untuk menggapai masa depan yang lebih baik. Sosoknya akan ditulis secara berseri, dimulai dari masa kecilnya saat ia masih gadis cilik namun sudah menaklukkan dunia laki-laki.

Ia terlahir dengan nama Rahmatun. Lahir di Sumenep, Madura, tepatnya di Desa Moncek, Kampung Tengah, pada 15 Juni 1945. Ia wafat di tempat kelahirannya pada 14 September 2019, atau 14 Muharram 1441 Hijriah, dalam usia 74 tahun.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Nyai Rahmatun adalah salah satu putri dari KH Muhammad Nur bin KH Abdul Karim bin KH  Zaidin bin Syekh Farwiyah bin Syekh Rembang bin Syekh Umar Al-Yamani dari Kudus. Ibundanya adalah Nyai Zahrah.

Dalam usia 14 tahun, Nyai Rahmatun dinikahi oleh sepupunya sendiri, yang tak lain adalah K Ali Wafa. Pernikahan terjadi 1959 dengan maskawin uang dua ringgit. Akad nikah pasangan ini dilakukan di Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa, tempat mondok suaminya. Mereka menikah dihadapan Almaghfur lahu KH Muhammad Ilyas. Dan dari pernikahannya ini, Nyai Rahmatun dikaruniai 9 anak; lima laki-laki dan empat orang perempuan. Meraka adalah Alimah, Ahmad Wakid, Fachruddin Arrazy, Fauzan Adzima, Ma’rufah, Ali Faruq, Mursyid Afif, Nuria Ulfah Tamamah, dan Milatul Hasanah.

Rahmatun tergolong sosok perempuan yang cukup, pintar, cerdas, dan hiperaktif. Salah satu tandanya adalah selalu ingin tahu banyak hal. Seperti diceritakan oleh Manidah (kini almarhumah). Suatu hari, ayahnya, K Nur, melarang Rahmatun bermain dekat-dekat pohon sawo. Sembari ditakut-takuti bahwa banyak jin yang bersarang di pohon sawo.

Namun, secara diam-diam, Rahmatun justru mengajak teman-temanya yang sekaligus santri, bukan bermain di bawah rindangnya pohon sawo, namun malah memanjatnya. Bukannya takut, malah penasaran dengan sosok jin.

Saat itu, pada awalnya teman-temannya menolak ajakannya karena takut. Tak kurang akal, Rahmatun yang masih gadis kecil itu meyakinkan teman-temannya bahwa justru jin yang akan ketakutan kepada manusia yang membaca taawwudz, ayat kursi, dan kalimat-kalimat thayyibah lainnya. Jin itu, katanya kepada teman-temannya, akan lari terbirit-birit dan terbakar oleh bacaan-bacaan itu. Atas bujukannya itu, teman-temannya menjadi luluh, dan sambil komat-kamit mulailah mereka satu per satu memanjat pohon sawo hingga ke atas — dan tentu saja mereka tidak pernah melihat jin di sana.

Ditinggal wafat oleh ibunya pada usia 4 tahun, menjadikan Rahmatun terbiasa hidup mandiri sejak belia. Ia hanya diasuh oleh ayahnya, K Nur, dengan dibantu para santri putri. Maka, tidak heran jika Rahmatun tidak sempat bermanja-manja seperti anak kecil pada umumnya.

Pada usia 7 tahun, Rahmatun telah dipondokkan oleh ayahnya di rumah kakeknya sendiri di Desa Pangurai, Sumenep. Di pondok itulah Rahmatun besama santri-santri yang lain belajar dan mengaji kitab di Madrasah Muallimin atau setara Madrasah Diniyah dengan sistem halaqah. Materi yang dipelajari waktu itu antara lain ilmu tajwid, tauhid, hahu-saraf, fikih, tarikh Islam, akhlak, dan juga diajari tulis menulis latin.

Tidak berhenti di situ. Setelah berhenti mondok dan menikah, Rahmatun tetap ngasok (belajar secara otodidak) kepada kakak-kakaknya sendiri, di antaranya, belajar tafsir Al-Quran dan Hadis kepada KH Syamsul Arifin Nur yang lulusan Mekkah; belajar fikih dan ilmu alat seperti nahu, i’lal-saraf,  dan balaghah kepada KH Abdul Khalik Nur; dan belajar Bahasa Arab dan tarikh Islam kepada K Muhammad Amin Nur. Bahkan, Rahmatun juga tidak gengsi belajar kepada adiknya sendiri yang alim allamah K Abdul Wahid Nur.

Kebiasaan sejak kecil yang doyan memberi nasihat ini terbawa hingga ke masa dewasa, membentuk jiwa pendakwah dalam dirinya. Karena itu, semangatnya untuk menyebarkan ilmu dan pengetahuannya terus menyala-nyala. Untuk kepentingan itu Rahmatun mendirikan perkumpulan majelis taklim dan zikir untuk perempuan di desanya sendiri. Belakangan, jamaahnya ternyata juga dating dari luar desanya.

Pembawaanya yang humoris, diplomatis, dan supel menjadikan pergaulannya sangat luas. Hingga akhirnya, atas dukungan, motivasi, dan rida dari suaminya, Rahmatun pun bermetaforma menjadi seorang pendakwah, dan selalu memenuhi undangan ceramah. Tak hanya di berbagai daerah di Pulau Madura, bahkan hingga ke luar pulau.

Seperti diceritakan oleh H Aswal dan istrinya dari Desa Poreh Lenteng (yang saat ini masih hidup), bahwa saat menjabat kepala Madrasah Ibtidaiyah sekitar akhir tahun 1970-an sampai awal 1990-an, Rahmatun tercatat menjadi satu-satunya kepala sekolah dari kalangan perempuan waktu itu.

Masa-masa itu ia juga sering diundang untuk ceramah oleh KH Imam Hasyim, ayahanda dari Alm Prof Dr KH Ahmad Imam Mawardi, untuk memberi taushiyah di kediamannya, Desa Poreh Lenteng pada acara Akhirussanah dan khatmil Quran di sana. KH Imam Hasyim yang saat itu menjabat sebagai pengawas madrasah se-Kecamatan Lenteng dan sering bertamu ke kediamannya untuk mengawasi dan memberikan arahan seputar kurikulum pendidikan, juga pernah minta didoakan agar kelak memiliki putra seorang dai masyhur seperti dirinya.

Menurut Suwaibah, salah satu santrinya yang juga masih hidup, salah satu materi ceramah Nyai Rahmatun yang selalu diingat adalah tentang derajat perempuan di sisi Allah dan Rasul. Bahwa, perempuan juga diberi hak dan kesempatan yang seluas-luasnya untuk berdakwah dan menyebarkan ilmu pengetahuan. Seperti halnya dilakukan oleh istri Nabi, Siti Aisyah ra, yang meriwayatkan banyak sekali hadis Nabi dan mengajar sahabat-sahabat dari kaum perempuan dan kalangan laki-laki.

Multi-Page

2 Replies to “Nyai Rahmatun (1): Penerobos Sekat Gender”

  1. Mantab,, sosok yang sangat inspiratif, bukan hanya bagi kaum perempuan saja, tetapi juga bagi kalangan laki-laki juga. Perempuan hebat di waktu yang tepat dan di tempat bermartabat. Pastinya, menunggu bagian selanjutnya.

    Oh, ya, jika memungkinkan saya ingin Nyi Milatul Hasanah juga mengangkat sosok Nyi Towan Warits. Sekiranya ta’ Cangkolang,,,

Tinggalkan Balasan