NU dan Islam Nusantara

277 kali dibaca

Islam Nusantara bukanlah sebuah aliran baru atau ajaran baru, akan tetapi sebuah metode memahami agama dalam interaksinya dengan kebudayaan Nusantara. Konsep Islam Nusantara merupakan ajaran Aswaja yang “dalam bidang akidah mengikuti Al-Asy’ari dan Al-Maturidi, dalam fikih mengikuti mazab empat, dan dalam tasawuf mengikuti Al-Ghazali dan AlJunaid Al-Baghdadi.”

Paham ini dibawa oleh para penyebar agama Islam di Nusantara, terutama Wali Songo, yang kemudian terus dikembangkan oleh ulama-ulama pondok pesantren dan Nahdlatul Ulama (NU) hingga mewujud dalam bentuknya saat ini.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Para pembawa Islam yang masuk ke bumi Nusantara ini, terutama Wali Songo, merupakan para ulama sufi sebagai pengamal ajaran tasawuf. Ini yang kemudian terus dikembangkan oleh ulama-ulama pesantren dan NU, yang pada akhirnya menjadi cikal bakal dari lahirnya konsep Islam Nusantara. Jadi tidaklah berlebihani bila penulis berpandangan bahwa sebuah keniscayaan kalau Islam Nusantara terbangun dari ajaran tasawuf sebagai fondasinya.

NU dan Islam Nusantara

Wali Songo dengan ajaran Aswaja yang dibawanya berhasil mendialogkan ajaran Islam yang berasal dari Arab dengan tradisi masyarakat Nusantara. Jelasnya, tidak mengubah tradisi masyarakat yang sudah ada dan berlangsung, tetapi mewarnai sehingga melahirkan tradisi baru keislaman masyarakat Nusantara.

Maka tak heran jika Clifford Gertz menyebut Wali Songo itu bukan sekadar dai yang menyebarkan ajaran Islam, tetapi juga sebagai cultural broker, makelar kebudayaan. Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari kemudian merumuskan Aswaja sebagai: “dalam bidang akidah mengikuti Al-Asy’ari dan Al-Maturidi, dalam fikih mengikuti mazhab empat, dan dalam tasawuf mengikuti Al-Ghazali dan Al-Junaid AlBaghdadi.”

Pada masa itu, munculnya gerakan puritan Wahabi pada awal abad ke-18 dengan slogan kembali kepada Al-Quran dan sunnah meniscayakan penolakan terhadap pengikut-pengikut mazab empat yang mayoritas di dunia Islam. Gerakan ini menyebar ke seluruh dunia Islam, termasuk Indonesia. Maka, Hadratussyeikh menegaskan kembali tentang pengertian Aswaja, untuk membentengi umat Islam Nusantara dari pengaruh gerakan Wahabi.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan