Ngaji “Suwung” di Awal Ramadan

1,282 kali dibaca

Bagi kalangan taswasuf, salik, atau pelaku-pelaku suluk pasti mengenal istilah suwung yang memiliki arti kosong atau sesuatu yang tanpa pembatas ruang. Awal Ramadan tahun ini, tahun 2022 atau 1443 H, saya turut ngaji di Pesantren Global Mangliawan Pakis Malang dalam kajian Pesantren Ramadhan Islam Nusantara (PRAMISTARA).

Dalam salah satu kajiannya adalah tetang “suwung” yang memiliki makna dengan pendekatan imanensi dan transendensi. Di mana pendekatan utamanya adalah tentang kausalitas, tentang kausaprima. Pendek kata suwung adalah pembahasan tentang sikap untuk menampatkan diri atas segala realitas yang terjadi.

Advertisements

Pemateri dalam kajian ini adalah Kiai Abdullah Wong. Beliau menjelaskan tentang “suwung” sebagai proses awal dan akhir, dengan memberikan contoh bahwa peradaban musik Jawa memiliki alat namanya gong, bahwa kalau mau pergi dari utara ke selata secara penyebutan Jawa adalah ngidul, sedangkan arah-arah yang lain adalah ngalor, ngetan, dan ngulon. Di samping itu ada istilah ngaji yang mana lahir dari kata “aji” dengan tambahan “ng” dan banyak lagi contoh lainnya,

Artinya, segala proses awal dan akhir adalah proses suwung itu sendiri. Beliau juga memberikan gambaran contoh tentang “pelebaran” atau pembebasan, tanpa apa-apa yang melekat seperti pakaian, yang saat mau bekerja pasti pakaian tadi dikenakan, seribet apapun cara pakaian itu. Namun akan dilepaskan atau “dilebarkan” atau ditanggalkan dari tubuh kita. Artinya, setiap individu ketika mau beristirahat atau “meneng” pasti tidak ingin mengenakan apa pun, bahkan ingin telanjang bulat, menyendiri. Begitulah suwung.

Lebih dalam lagi bahwa pemahaman akan suwung itu berkaitan dengan ma khalaqta hadzaa baatila, bahwa tidak ada sesuatu yang diciptaan di muka bumi ini sia-sia. Artinya bahwa setiap sesuatu yang terjadi atau realitas yang dihadapi pasti tidak ada kesia-siaan sama sekali.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan