Nasionalisme Ala Santri Milenial

489 kali dibaca

Perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan tidak dapat dilepaskan dari peran tokoh-tokoh muslim pendiri bangsa yang teguh dalam setiap perjuangannya. Indonesia tidak merdeka begitu saja, tetapi juga karena adanya semangat spiritual yang mendorong bangsa Indonesia untuk terus maju melawan penjajah.

Tidak sedikit kita membaca dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, bahwa kekuatan nasional tidak hanya lahir dari semangat membara para pemuda, namun juga dari organisasi-organisasi yang bernafaskan nilai-nilai Islam didalamnya.

Advertisements

Hal ini membuat rakyat Indonesia tampil bukan hanya sebagai bangsa yang merdeka karena perjuangan sendiri, tetapi juga karena nilai-nilai religius yang selalu mengalir di setiap perjuangan mereka.

Kini zaman telah berubah, penjajahan telah berakhir puluhan tahun yang lalu. Rasa nasionalisme dalam diri bangsa kita sekiranya kian hari semakin memudar. Apalagi melihat perkembangan zaman di era digital ini yang dapat dengan bebas melunturkan rasa nasionalisme di dalam diri kita.

Berkaca pada perjuangan bangsa Indonesia di zaman dahulu yang memadukan semangat religius, gotong royong, dan persatuan sejak ratusan tahun silam, maka masih dapatkah kita melihat rasa nasionalisme itu di era sekarang?.

Sebuah gambaran sederhana namun menarik ingin saya tampilkan melalui tulisan ini, agar teman-teman dunia santri dapat merasakan perpaduan antara semangat religius dan nasionalisme di era modern seperti yang kita alami saat ini.

Oleh sebab itu, saya perkenalkan secuil kehidupan santri putra dan santri putri di Yayasan Pondok Pesantren Al Mardliyah Mojosari, Nganjuk, Jawa Timur yang juga merupakan siswa dan siswi di SMPI, SMPI Excellent, dan SMAI As-Syafi’ah dalam menyongsong hari kemerdekaan.

Hari kemerdekaan selalu diwarnai oleh segudang perlombaan yang seru. Tak terkecuali sekolah dan pondok pesantren tempat para santri menimba ilmu. Meski disibukkan dengan kegiatan harian yang padat, namun peserta didik disini yang notabenenya juga seorang santri masih tetap bersemangat mengikuti agenda-agenda yang diadakan selama hari kemerdekaan.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan