Napak Tilas Kemerdekaan Alumni Annuqayah Talango

415 kali dibaca

Saat ini bangsa Indonesia telah memasuki usia kemerdekaan yang ke-77. Seluruh lapisan masyarakat larut dalam perayaan dan penyambutan. Momentum agustusan sangat identik, suatu refeleksi memaknai kemerdekaan dalam hidup yang lebih konkrit; kemerdekaan dalam lingkup keluarga, kemerdekaan beragama, terentas dari kemiskinan, atau harmonis dalam hubungan dengan sesama ciptaan Tuhan.

Kendati nuansa beragam dari ekspresi pemaknaan kemerdekaan, merdeka adalah suatu perjuangan panjang. Ada rajutan historis di masa lampau di mana ada jihad kemanusiaan (jiwa dan raga) demi tegaknya suatu bangsa. Terlebih mereka yang berjuang dari bilik-bilik pesantren (khadim) di sela-sela mengasuh para santri.

Advertisements

Hal inilah yang menjadi spirit perayaan kemerdekaan para santri yang tergabung dalam Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) cabang Kecamatan Talango dalam merealisasikan kegiatan Napak Tilas Kemerdekaan di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-guluk, Sumenep, Kamis (19/08). Bagi mereka, pemaknaan kemerdekaan tidak lepas bagaimana mentransformasikan spirit juang para kaum sarungan.

Baca juga:   Khidmat, Upacara Kemerdekaan di Pesantren Al Kahfi

“Kegiatan ini sebagai bentuk istighasah kebangsaan, dimana dengan adanya napak tilas dan istighasah ini merupakan refleksi pembangunan negara kita ke depan lebih maju lagi. Tidak hanya merdeka secara konstitusional, tetapi juga kemerdekaan itu bisa benar-benar dirasakan oleh rakyat bawah,” kata Ketua Ikatan IAA Talango, Edy Hartono.

Napak Tilas ini dimulai dengan istighasah di Tugu Perjuangan Pahlawan KH. Abdullah Sajjad (Putra Pendiri Ponpes Annuqayah, K. Syarqawi al-Kudusi) yang terletak di lapangan Kemisan, Guluk-guluk, Sumenep, Jawa Timur. Tempat itu menjadi saksi atas perjuangan Kiai Annuqayah melawan Belanda.

Baca juga:   Santri Lirboyo Mulai Divaksin AstraZeneca

Kagiatan dilanjutkan dengan Napak Tilas ke beberapa maqbarah yang ada di lingkungan pesantren, diantaranya di Maqbarah K. Syarqawi al-Kudusi (atau asta tengah para santri menyebutnya), Maqbarah KH. Abdullah Sajjad dan KH. Muhammad Ilyas Syarqawi (asta laok).

“Kami juga melaksanakan istighasah kebangsaan dengan tujuan sebagai nyambung pangestoh (membangun kepedulian) kepada guru kita semua, yakni para masyaikh di Ponpes Annuqayah,” lanjutnya.

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan