Munculnya Para Penjual Agama

Ada ungkapan yang berkesan saat penulis mewawancarai Ismail Fahmi ―leader DroneEmprit, sejenis lembaga analis komunikasi berbasis Big Data― soal jejaring dan wacana umat Islam di masa pandemi (23/8/2021). Yakni, telah terjadi “islamisasi teori konspirasi” dan umat Islam merupakan kelompok ―walaupun jumlahnya mayoritas― yang paling rentan dari segi ekonomi, yang pada gilirannya menumbuhkan kecemasan personal atas situasi yang ada. Dan karena rentan menjadi konsumen teori konspirasi.

Pertanyaannya, mengapa banyak umat Islam percaya teori konspirasi? Mengapa tiba-tiba banyak aktor yang melakukan “islamisasi teori konspirasi?” Mengapa umat Islam banyak yang miskin? Dan mengapa umat Islam selalu cemas atas situasi yang ada?

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Pertanyaan-pertanyaan ini mendorong kita untuk meninjau ulang iman seperti apa yang kita peluk, dan bagaimana jenis iman itu bisa memengaruhi kondisi hidup kita, baik secara ekonomi atau bahkan politik?

Baca Juga:   Masjid Tanpa Dinding

Semua orang Islam, di mazhab, golongan, atau ormas apa pun, percaya akan rukun iman. Tetapi penerapannya dalam kehidupan sehari-hari bisa sangat berbeda. Dan dalam perbedaan itulah terjadi ketegangan klasik antara tasawuf dan fikih, atau antara nalar transenden dan nalar materil.

Orang Islam yang penulis maksud dalam tulisan ini ialah kalangan muslim modern, yang secara sosiologis terkena urbanisasi (dengan segala konsekuensi ekonominya), dan yang secara keagamaan tersiram konservatisme. Sehingga, mereka punya corak tersendiri soal penerapan tasawuf dan fikih di kehidupan sehari-hari, dibanding rival mereka yang berasal tradisi keagamaan yang lebih mapan.

Baca Juga:   Ramadan dan Nilai Berbagi

Hal ini bermula ketika proyek pembangunan rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan Pak Harto sedang melejit di tahun 1970-1990-an. Di saat yang sama, tumbuh gerakan-gerakan Islam konservatif yang mula bersemi di Masjid Salman ITB, kemudian menyebar di berbagai daerah. Artinya, ekonomi sedang makmur, gairah agama sedang bersemarak, dan anak-anak muda yang menjadi jamaahnya menjadi melting-pot antara semangat kapitalisme dan semangat akhirat.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

One Reply to “Munculnya Para Penjual Agama”

Tinggalkan Balasan