Mispersepsi Metodologi Pendidikan

985 kali dibaca

Seseorang yang menjadi pembimbing dalam hidup tentulah orang yang memiliki keluasan pengetahuan dan pula pengalaman. Orang yang memiliki kapabilitas seperti itu bisa disebut sebagai guru. Istilah ini memiliki dua arti jika dibaca dalam terminologi Jawa: guru itu berarti digugu dan ditiru.

Digugu, berarti perkataannya harus bisa dijadikan panutan dan dapat dipertanggungjawabkan. Pertanggungjawaban tersebut baik yang berupa alasan-alasan maupun bukti-bukti yang logis dalam penyampaian sesuatu. Karena itu, seorang guru harus mempunyai kewibawaan juga wawasan yang cukup tinggi. Sebab, apa pun yang diucapkannya akan dianggap benar oleh khalayak umum.

Advertisements

Ditiru, berarti sosok seorang guru harus bisa ditiru baik tingkah lakunya maupun segala hal yang diucapkannya (pengetahuannya). Semangatnya dan budi pekertinya harus bisa dijadikan teladan. Tak hanya kata-katanya, perilaku dan sikapnya juga harus bisa ditiru.

Baca juga:   Tanda Mata untuk Jingga

Dengan demikian, menjadi seorang guru tidaklah semata pada proses transfer knowledge, akan tetapi transfer uswah hasanah dan spritualisasi iman. Bertambahnya ilmu pengetahuan dari proses belajar seorang murid tidak jauh dari peran guru dalam seni mengajar dan memahamkan pada setiap murid. Peran akal dan IQ murid mendukung proses dalam bertambahnya pengetahuan yang ia dengar, lihat, dan pikirkan. Tapi, pembentukan karakter yang sholeh menjadi tugas yang lebih krusial atas peran guru dalam mendidik muridnya.

Dalam konteks ini, peran mawas diri dan ngerteni dari murid, akan menjadi dasar proses pembentukan karakter yang akan dibangun. Seorang murid akan terbentuk pribadinya apabila ia mampu menyadari dan mengelola emosi dirinya, memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain, mampu merespons dan bernegosiasi dengan orang lain secara emosional, serta dapat menggunakan emosi sebagai alat untuk memotivasi diri.

Baca juga:   Islam Antara Universalitas dan Partikuralitas

Dalam proses penyadaran diri atas hal yang transenden menjadi nilai yang luhur, seorang guru akan dimintai pertanggungjawaban atas murid jika sang muris justru semakin jauh pada dari sang Kholiq. Di sini, juga, tazkiyatun nafs menjadi hal penting dalam proses penyucian jiwa atau nafsu dari berbagai noda dan kotoran dosa.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan