Menyambut Imam Besar Umat Islam

2.138 kali dibaca

Islam terus tumbuh dan berkembang. Dalam perkembangannya, tentu saja cobaan-cobaan bagi umat Rasulullah juga semakin deras. Namun, tak mengapa, tidak ada yang pantas didapatkan selain iman. Seberapa pun besar beban yang mereka tanggung, tetap saja, yang paling nikmat adalah nikmatnya iman dan nikmatnya berada di sisi Rasulullah.

Saat itu, Nabi Muhammad dan para sahabatnya tiba di Madinah. Betapa senang hati penduduk Madinah, tak terbandingkan dengan kesenangan apa pun. Kaum Anshor, begitu mendengar kabar bahwa Rasulullah Muhammad hendak berhijrah dari Mekkah menuju ke wilayahnya, tak sehari pun mereka lewatkan dengan menunggu kedatangan Sang Nabi. Di kala pagi, mereka keluar rumah untuk menanti sosok mulia tiba. Dan, tepat pada hari Senin, 12 Rabiul Awal tahun ke-14 kenabian, atau tepat pada tanggal 23 September 622 Masehi, Sang Nabi tiba.

Advertisements

Kaum muslimin yang ada di Madinah, serta kaum Yahudi yang ada di sana, sontak berbondong-bondong menyongsong kedatangan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Hari itu adalah hari paling membahagiakan bagi kaum Anshor. Sambutan hangat penuh suka cita itu ditangkap oleh Rasulullah. Selawat terus-menerus dilantunkan oleh mereka,

Baca juga:   Umar bin Khattab dan Toleransi Beragama

Wahai bulan purnama yang terbit kepada kita
Dari lembah Wada’
Dan wajiblah kita mengucap syukur
Di mana seruan adalah kepada Allah.
Wahai engkau yang dibesarkan di kalangan kami
Datang dengan seruan untuk dipatuhi
Engkau telah membawa kemuliaan kepada kota ini
Selamat datang penyeru terbaik di jalan Allah.

Rasulullah, Muhammad. Seorang Imam besar satu-satunya yang terbaik dan termulia di sepanjang waktu. Tak akan pernah tergantikan. Rupanya, tidak hanya penduduk Yatsrib yang bungah menanti kedatangan Nabi.

Baca juga:   Ujian Keimanan dalam Peristiwa Tabuk

Kini, di hari kelahiran Nabi, maulid Nabi, seluruh orang beriman sedang menunggu dan menantikan sapaan Nabi Muhammad. Hati yang sudah kosong, tidak ada panutan yang benar-benar patut diteladani, tidak ada pemimpin yang benar-benar patut dimuliakan, tidak ada guru, tokoh, pencerah, yang benar-benar patut digugu selain Kanjeng Nabi Muhammad. Hati yang sudah lelah mondar-mandir ke sana dan kemari mencari kebenaran, saat ini hanya merindukan sapaan Kanjeng Nabi.

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan