duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Menjaga Akhlak di Era Digital

Kedua, kita harus bisa menjauhi forum atau majlis atau sesuatu yang penuh kesia-siaan. Artinya, kita harus tetap fokus pada cita-cita, dan tidak tergoda pada hal-hal yang tak banyak manfaatnya. Ada ungkapan seperti ini: Janganlah kamu menjejakkan kakimu di atas permadani, di mana orang-orang membuat kemungkaran di atasnya, yang dapat merusak sendi-sendi moral, dan kamu berpura-pura tidak tahu akan hal itu. Dalam konteks kekinian, forum, majlis, atau permadani itu mewujud dalam bentuk medsos. Artinya, jangan sampai kita terbawa arus penyebaran berita bohong atau hoax melalui medsos, misalnya.

Ketiga, kita harus menjadi pribadi pemaaf. Dengan selalu memaafkan kesalahan orang lain, kita akan menjadi terhalang untuk menyebarkan aibnya. Seorang penyair pernah mengatakan, “Siapa orang yang bisa engkau terima semua sikap hidupnya? Cukuplah seseorang itu dikatakan mulia bila aibnya bisa dihitung.”

Advertisements
Cak Tarno

Ulama Ja’far ibn Muhammad pernah memberi nasihat kepada anaknya demikian: “Wahai anakku, siapa di antara teman-temanmu yang marah kepadamu sebanyak tiga kali, dan yang dikatakannya adalah sebuah kebaikan dan kebenaran, maka jadikanlah ia sebagai temanmu.”

Baca Juga:   Bissu dan “Manusia Paripurna”

Kemudian, al-Hasan ibn Wahab pernah berkata: “Di antara hak-hak mencintai adalah memberi maaf terhadap kesalahan teman, dan menutup mata atas kekurangannya.”

Jika nasihat-nasihat tersebut kita jadikan pegangan, kita akan terbebas dari perilaku buruk berupa penyebaran aib atau hoax melalui medsos.

Perlunya menjaga akhlak yang baik, seperti pernah diajarkan Abdurrahman an-Nahlawi, menjadi terasa sangat penting di era digital yang menyebabkan kehidupan begitu gaduh dengan masifnya ujaran kebencian. Menurut Abdurrahman an-Nahlawi, penyemaian akhlak yang bisa dilakukan melalui dialog.

Baca Juga:   Cerita Pesantren Penyandang Disabilitas Pertama di Banyuwangi

Ia memberi contoh, ketika seseorang bertanya kepada guru (orang lain), hendaklah dilakukan dengan perkataan yang baik. Jangan sampai menyinggung perasaan atau bahkan sampai menjatuhkan harga diri seorang guru (orang lain), atau mengadu domba pendapat satu orang dengan yang lain nya. Memaksakan pendapat harus dihindari.

Halaman: First ← Previous 1 2 3 Next → Last Show All

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan