Menjadi Intelektual Muda NU yang Jernih dan Menjernihkan

Seseorang atau kelompok yang radikal secara permanen akan merasa paling benar dan berupaya memaksakan pendapatnya kepada kelompok lain yang dianggap sesat, maka dampaknya adalah konflik dan kekerasan pasti tidak dapat dihindari. Representasi dari pemaksaan radikalisme tersebut akan berujung pada aksi-aksi terorisme. Menurut Eubank dan Weinberg (2006:19), aksi terorisme tidak tunduk pada tata cara peperangan seperti waktu pelaksanaanya yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak sehingga seringkali yang jadi korban adalah warga sipil. Pelaku terorisme dapat bersifat individual, kelompok, bahkan hingga suatu negara yang dikenal dengan terorisme negara.

Radikalisme dan terorisme merupakan dua paham yang sangat mudah menyerang para generasi muda, terutama mereka yang dalam proses memahami agama. Kekeliruan memaknai jihad telah membawa mereka masuk ke dalam ideologi radikal. Bukan ajaran agamanya yang salah, tapi manusianya yang salah dalam memahami ajaran agama yang sebenarnya penuh kedamaian dan toleran. Menurut Misrawi (2010), radikalisme dan terorisme tidak bisa dikaitkan dengan agama karena yang bermasalah bukan agama, tetapi umat yang kerap kurang tepat memahami doktrin agama, tidak kontekstual dan bernuansa kekerasan.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Data dari Badan Intelijen Negara (BIN) menunjukkan bahwa 39 persen mahasiswa di Indonesia terpapar radikalisme. Hal tersebut harus ditanggapi dengan serius karena radikalisme yang dibiarkan akan mengarah pada aksi terorisme. Kondisi tersebut membuat para orangtua menjadi khawatir karena anak-anak mereka yang sedang kuliah di perguruan tinggi bisa saja menjadi target pemikiran radikalisme dan terorisme. Faktor penyebabnya adalah karena pemahaman agama dan wawasan kebangsaan yang kurang.

Baca Juga:   AMSAL PANCAROBA

Terakhir tiga terduga teroris ditangkap di Gelanggang Mahasiswa Universitas Riau pada hari Sabtu, 2 Juni 2018 (Sumber: Tempo Daring, 2018). Tiga terduga teroris ini merpukan alumni Universitas Riau. Penangkapan ini dilakukan tidak lama setelah serangan teroris di Markas Kepolisian Polda Riau pada 16 Mei 2018 yang menewaskan empat pelakunya. Penangkapan ini merupakan bentuk afirmasi dari hasil penelitian Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tentang radikalisme di kampus. Dalam majalah Tempo edisi 27 Mei-2 Juli 2018, BNPT menyebutkan bahwa lingkungan kampus di Indonesia sudah terpapar radikalisme sejak 30 tahun yang lalu. Sementara penelitian Alvara  Research Center pada Oktober 2017 yang menggunakan 1.800 responden di 25 universitas seluruh Indonesia, menunjukkan bahwa 23,5 persen menyetujui gerakan Negara Islam Irak dan Suriah, dan 23,4 persen menyetujui kesiapan untuk berjihad mendirikan khilafah.

Tinggalkan Balasan