Membongkar Wacana Hegemonik Pesantren

1,404 kali dibaca

Sabtu, 22 Oktober, santri se-Indonesia sedang berbahagia. Sebab, hari tersebut adalah hari jadi santri se-Indonesia. Namun, di balik kemeriahan perayaan hari santri, pesantren, sebagai wadah para santri, menyimpan segudang masalah. Pesantren yang idealnya adalah tempat menuntut ilmu sebagaimana akademia Plato, malah menjadi tempat yang penuh dengan intrik kekuasaan kultural yang diperankan oleh para kiai. Maka tak heran bila lulusan-lulusan pesantren bukanlah lulusan yang unggul dalam berkiprah di kancah nasional. Hanya beberapa saja yang dapat bersaing, itu pun karena ia memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh santri kebanyakan. Hal itu disebabkan oleh kultur feodal yang sangat melekat di dalam dunia pesantren.

Salah satu bentuk feodalisme yang terjadi di lingkungan pesantren ialah pembedaan panggilan antara santri anak kiai dan santri biasa. Panggilan “gus” yang berarti bagus, dan “ning” yang berarti bening untuk santri anak kiai, sedangkan panggilan “mba” dan “kang” untuk kalangan santri biasa. Hal itulah yang menyebabkan perbedaan kelas sosial di dalam pesantren. Mereka yang menjadi anak kiai dianggap sebagai kelas yang lebih tinggi dibandingkan dengan santri biasa yang hanya mendapat julukan mba dan kang.

Advertisements

Budaya taklid juga sangat subur di dunia pesantren. Penyebab terjadinya budaya taklid tidak bisa dilepaskan dari kultur feodal di pesantren, bahkan sampai muncul ungkapan yang begitu fenomenal yakni, nggandol sarung kiai. ­Ungkapan tersebut bisa bermakna manut kepada apapun keputusan kiai, terlebih lagi dengan dijadikannya potongan ayat “sami’na wa atha’na” sebagai dalil untuk taat kepada kiai, padahal potongan ayat di atas lebih tepat dipahami dalam konteks Allah dan Rasul-Nya, bukan kepada kiai. Dengan begitu, hegemonik kiai terhadap para santri menjadi semakin subur,

Kultur feodal di pesantren juga dapat mematikan kreativitas para santri. Salah satu contohnya ialah budaya bertanya kepada kiai yang dianggap sebagai suul adab. Hal tersebut dapat mengakibatkan santri takut untuk berpikir kreatif, padahal bertanya merupakan tanda seseorang sedang berpikir. Oleh karena itu, melarang santri bertanya sama saja menghalang-halangi mereka untuk berpikir kreatif. Pun santri yang menjadi korban feodalisme, secara mental, akan menjadi pribadi yang penakut dan lemah dalam kepribadian. Mereka tidak berani untuk berkompetisi—dengan kata lain, menyerah sebelum bertanding­—dalam hal apapun. Ditambah paham determinasi yang begitu kental di dunia pesantren, yang akhirnya mengakibatkan para santri kehilangan optimisme dalam menjalankan kehidupannya.

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan