AIR MATA SIA-SIA

796 kali dibaca

DI KELOPAK MATAMU

I
Di kelopak matamu
Aku menemukan samudera
Tempatku berlayar mengantar doa paling samar
Menjemput kabar sampai akar
Dan menjumpai senyummu yang terus mekar

Advertisements

II
Saban hari engkau menjelma puisi, buku-buku
Yang harus kutuntaskan setiap kali bertemu
Agar segala yang kuasuh lekas memelukmu dengan utuh

III
Sungguh aku tak lagi menemukan tempat kepulangan
Sebab, semua langkahku telah tertuju padamu
Yang selalu mencipta tenang.

Yogyakarta, 2022.

NASIB PUISI KITA

Aku tak tahu nasib puisi kita seperti apa
Jalan yang ditempuh masih belum jauh, juga tak begitu utuh
Sedang kata-kata terus berjalan telanjang dalam pikrian agar segera dirampungkn dalam tulisan.

Baca juga:   BIDADARI BERSELENDANG BIANGLALA

Kita berbincang tenang
Melewati malam yang akan segera pergi
Menakar segala resah menyelimuti
Sampai menunggu pagi
Untuk menghasilkan puisi.

Aku tak tahu nasib puisi kita seperti apa
Segala yang kita bina tak banyak melahirkan makna indah
Yang entah akan menhadirkan tawa atau airmata.

Aku tak tahu nasib puisi kita seperti apa

Baca juga:   Seri “Wali Pitu” di Bali (4): Syekh Maulana Raden Hasan

Yogyakarta, 2022.

AIR MATA SIA-SIA

Entah sudah berapa bulir airmata kubuang sia-sia
Kalimat yang tak lekas kaubaca
Masih menjadi peristiwa dalam setianp langkah
Doa-doa saban malam dipinta terlalu dini untuk melahirkan luka teramat lara.

Banjir sudah samudera yang kubuat
Ia tak cukup kuat untuk menampung segala yang kuikat
Hingga semuanya telah pulang dan menyisakan kenang sepanjang ingatan.

Yogyakarta, 2022.

JIKA AKU MATI

Jika suatu saat nanti aku mati kuburlah jasadku dengan lubang paling dalam

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan