Mbah Manan, Kiai Sakti yang Rendah Hati

8,162 kali dibaca

Dikenal sebagai seorang kiai yang alim, jaduk alias sakti, Mbah Manan ternyata tetap rendah hati. Pada awal abad ke-20, ia menjadi salah satu mata rantai penyebaran kiai dan pesantren di ujung timur Pulau Jawa, khususnya Banyuwangi.

Kerendahan hati Mbah Manan, sapaan akrab KH Abdul Manan, di antaranya tampak pada gayanya saat mengajar mengaji dan semangatnya menuntut ilmu. Saat pondoknya sudah berkembang pesat dan santrinya banyak, Mbah Manan jarang turun langsung mengajar ngaji santrinya. ngaji-ngaji kitab kuning lebih sering diserahkan kepada santri-santrinya yang sudah senior, yang sudah menguasai kitab kuning. Mbah Manan baru turung langsung saat jadwal ngaji kitab al-Hikam dan Tafsir al-Jalalain.

Advertisements

Mendengar Mbah Manan sebagai kiai yang tinggi ilmunya, suatu hari datang seorang santri asal Jawa Barat untuk memperdalam penguasaan kitab kuning. Namun, di hari pertama ia dibuat kecewa. Sebab, saat mbalah kitab kuning, pembacaan Mbah Manan ternyata menabrak pakem atau kaidah-kaidah gramatikal bahasa Arab kitab kuning. Tidak memperhatikan nahwu-shorofnya. Juga tidak memberi penjelasan dengan benar akan makna dari isi kitabnya. Si santri, yang sudah menguasai pembacaan kitab kuning, merasa kecewa dan sia-sia datang dari jauh. Sepulang ngaji, ia ngedumel sendiri di kamarnya.

Namun, keesokan harinya, ia merasa kaget sekaligus malu saat mengikuti ngaji Mbah Manan untuk kedua kalinya. Seakan telah mengetahui kekecewaan si santri, kali ini Mbah Manan mbalah kitab kuning dengan tertib dan sempurna. Pembacaannya berpegang pada kaidah nahwu dan shorof dengan baik hingga ke penjelasan detailnya, termasuk menyitir nadzam Alfiyah. Mbah Manan juga menambahkan keterangan-keterangan akan makna dari kitab yang dibacanya secara komprehensif. Merasa malu, usai ngaji, si santri angkat koper.

Sikap rendah hati Mbah Manan juga tampak ketika ia mengikuti pengajian Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali yang diberikan oleh KH Askandar. Padahal, saat itu, selain sebagai santrinya, KH Askandar adalah menantunya. Ketika itu, KH Askandar sudah membangun pondok sendiri, tak jauh dari pondok Mbah Manan. Saban hari, Mbah Manan dengan tekun mengikuti pengajian Ihya Ulumuddin yang diberikan oleh KH Askandar hingga khatam. Bahkan, saat khataman pengajian Ihya Ulumuddin, Mbah Manan menyembelih dua ekor sapi sebagai ungkapan rasa syukur. Begitulah, kiai jaduk ini masih mau ngaji dan berguru kepada santri dan menantunya.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan