Makna Pluralisme yang Sebenarnya

366 kali dibaca

Pluralisme agama pada dasarnya merupakan sebuah realitas dalam kehidupan dunia. Al-Qur’an mengakui secara tegas adanya pluralisme dalam berbagai aspek kehidupan manusia, dengan berbagai argumentasinya.

Sebenarnya, pluralisme atau “al-ta’addudiyyah”, tidak dikenal secara popular dan tidak banyak dipakai di kalangan Islam, kecuali sejak kurang lebih dua dekade terakhir abad ke-20, yaitu ketika terjadi perkembangan penting dalam kebijakan internasional Barat yang baru memasuki sebuah fase perkembangan. Dalam hal ini upaya Barat yang habis-habisan menjajakan ideologi modernnya yang dianggap universal, seperti demokrasi, pluralisme, dan pasar bebas serta mengekspornya untuk konsumsi guna berbagai kepentingan yang beragam.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Dalam hal pluralisme agama, Islam memberikan kebebasan untuk memilih dan meyakini serta beribadah menurut keyakinan masing-masing. Pemilihan sebuah keyakinan merupakan pilihan bebas yang bersifat personal. Meski demikian, manusia diminta untuk memilih dan menegakkan agama. Tapi, pluralisme juga ingin melampui capaiannya, yaitu menjadi sebuah upaya memahami yang lain melalui sebuah pemahaman yang konstruktif.

Artinya, karena perbedaan dan keragaman merupakan hal yang nyata, maka yang diperlukan adanya pemahaman yang baik dan lengkap tentang hal lain, sehingga tercapainya kehidupan yang damai. Karena makna pluralisme secara fundamental adalah, menolak berbagai macam tindakan kekerasan, karena tindakan tersebut secara nyata tidak sesuai dengan prinsip kemanusiaan universal, yaitu antara satu agama dengan lainnya harus saling menghargai dan menghormati.

Namun, menurut penulis, perlu adanya tafsir baru atas pluralisme. Hal ini dalam rangka menghindari pemahaman dan representasi yang salah. Sebab, munculnya tafsir sewenang-wenang atas pluralisme akan sangat berbahaya karena akan menimbulkan dampak-dampak negatif, terutama untuk menjaga keragaman.

Kesalahan dalam pemahaman sesungguhnya tidak hanya dilakukan oleh orientalis terhadap Islam, tetapi lebih dari itu juga bisa dilakukan oleh kalangan Muslim, terutama kurangnya pengetahuan tentang pluralisme. Di masa mendatang, tidak sepatutnya bila pluralisme dijadikan momok, apalagi diharamkan. Sebab, pluralisme menyisakan mutiara untuk hidup damai dan toleran.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan