Lunturnya Tradisi Menginap Santre Colog di Surau

1,189 kali dibaca

Barangkali dari kita masih asing dengan istilah santre colog (Bahasa Madura dari santri obor). Meskipun, saya meyakini, beberapa pembaca (utamanya yang bermukim di Madura) sudah memahaminya tanpa perlu dijelaskan.

Santre colog merupakan sebutan bagi mereka yang biasanya mengaji ke rumah kiai atau surau-surau kampung, dan berangkat dari rumah masing-masing dengan menggunakan obor, yang dalam bahasa Madura dikenal sebagai colog.

Advertisements

Santre colog —gampangnya— merupakan istilah yang diperuntukkan bagi mereka yang tidak bermukim di pondok pesantren, melainkan mengaji dengan berangkat dari rumah masing-masing. Sebenarnya penyebutan istilah tersebut dipengaruhi oleh kondisi zaman pada waktu dulu.

Minimnya penerangan di kampung-kampung Madura pada saat itu membuat para santri terpaksa (baca; mengharuskan mereka) menerobos kegelapan malam untuk sampai ke rumah kiai atau surau yang dituju. Biasanya berangkat secara bersama-sama dengan anak-anak lain yang juga akan mengaji.

Namun, iklim keilmuan yang tercipta pada saat itu justru memiliki karakteristik dan keunikan tersendiri. Perjuangan dan semangat yang disajikan membuat kesan bahwa semangat keilmuan mereka begitu membara.

Biasanya, fokus kajian santre colog adalah Al-Quran dan kitab-kitab kuno. Dengan dituntun oleh kiai langsung, para santri mengaji secara bergilir. Kitab yang dikaji adalah kitab-kitab klasik dan bersifat mendasar, seperti Safinatun Najah, Safinatus Shalah, Tariku Shalah, Sullam Taufiq, dan lain-lain.

Istilah lain yang sering atau santer diucapkan oleh orang Madura adalah kata kerja dari colog itu sendiri, yakni nyulog (memegang obor). Maksud dan artinya sama, hanya beda di penyebutan. Ada yang menyebut santre colog, ada yang menyebut santre nyulog. Namun, apa pun bahasa yang digunakan, santre colog tetap menjadi bagian dari kekayaan khazanah keilmuan, khususnya pesantren-pesantren di Madura.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan