Lelaki dalam Potret Ibuku

143 kali dibaca

“Sedang apa?” tanya bapak ketika aku sibuk dengan tongkatku.

“Oh. Rusak ya? Ya sudah besok Bapak belikan yang baru.”

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Bapak. Entah sudah berapa kali dia membelikan tongkat penyangga kaki kiriku yang terlalu lemah ini. Sejak kecil, setiap tubuhku bertambah tinggi, tongkat ini terasa tidak cocok lagi. Tongkat ini memang penolongku. Tanpanya aku tidak akan mampu meninggalkan tempat duduk. Ketika sekolah dulu, rasanya pengen sekali ikut teman-teman berlari mengejar bola dan bermain layangan di lapangan. Tetapi apa daya, jangankan untuk berlari, bergeser sedikit saja kaki kiriku tidak mampu menopang berat badan.

“Pagi sekali pak?” tanyaku pada bapak yang sudah siap untuk berangkat ke pasar. Selepas salat Subuh biasanya bapak masih menyempatkan diri untuk minum secagkir kopi dan gorengan ala kadar yang dibuat ibu.

“Hari ini ada kiriman kelapa yang datang lumayan banyak. Bapak harus segera buka kios agar kelapa-kelapa itu dapat dimasukkan,” jawabnya.

Lelaki itu, bapakku, memang sosok pekerja keras. Tanpa kenal lelah dia bekerja di kios kecil yang disewanya untuk berjualan aneka bumbu masakan. Usaha yang katanya dirintis dengan modal seadanya. Bersyukur, sekarang dari hasil jerih payahnya kami dapat makan secara cukup dan bapak tidak perlu bingung setiap tongkatku rusak atau tidak layak pakai lagi.

“Aku tidak ikut ya Pak. Badanku rasanya tidak enak.”

“Istirahat saja. Jangan ke mana-mana. Jika perlu apa-apa minta tolong ibumu. Nanti pulang dari pasar, Bapak bawakan tongkat baru,” lanjutnya sambil mengeluarkan motor butut kami.

“Ini masih bisa dipakai Pak. Bukannya Bapak minggu ini harus membayar perpanjangan sewa kios? Kalau terlambat seperti dua tahun yang lalu, anak buah Pak Karso bisa mengusir kita dari kiosnya. Kalau terjadi, bagaimana Bapak berjualan?”

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan