Kritik Sosial dalam “Tilik”

2,705 kali dibaca

Jagat maya akhir-akhir ini dihebohkan oleh Tilik. Film pendek nan sederhana ini menjadi perbincangan di mana-mana, oleh berbagai kalangan. Tentu saja juga memantik pro-kontra. Apa sesungguhnya yang terjadi di masyarakat kita?

Film Tilik berkisah tentang perjalanan sekelompok ibu-ibu dari sebuah desa menuju ke rumah sakit, untuk menjenguk ibu kepala desa mereka yang tengah dirawat. Rombongan itu pergi ke rumah sakit dengan menggunakan truk milik Gotrek.

Advertisements

Dari dalam truk inilah, obrolan menggibahkan Dian, sosok kembang desa, menjadi magnet dalam kisah film ini. Tidak hanya itu, ghibah mengenai sakitnya Bu Lurah juga membuat cerita semakin hidup. Dian diperbincangkan karena parasnya yang membuat para suami di desa gemar memandanginya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari Facebok dan pengamatan Bu Tejo, Dian sebagai wanita yang tidak benar. Cara Bu Tejo memprovokasi ibu-ibu lainnya untuk mendukung ceritanya itulah yang membuat penonton mengaku geregetan. Namun, tidak semua ibu-ibu dalam truk tersebut setuju dengan perkataan Bu Tejo. Ada Yu Ning, yang masih famili Dian, yang merasa kurang setuju dengan semua pernyataan tentang Dian yang disampaikan oleh Bu Tejo.

Yu Ning semakin geram mendengar berita yang disampaikan Bu Tejo. Dia mencoba mengingatkan Bu Tejo untuk menghentikan pernyatan-pernyataan negatif tentang Dian. Mereka berdua bahkan sempat bertengkar karena mempertahankan pendapat masing-masing.

Selain gemar membicarakan aib tetangga, karakter Bu Tejo juga digambarkan sebagai orang yang suka pamer harta, sehingga cukup mengusik Yu Ning. Hal itu terlihat dari banyaknya perhiasan yang dikenakan meski hanya pergi menjenguk orang yang sedang sakit. Bu Tejo juga ringan tangan mengeluarkan uang kepada Gotrek. Ternyata, maksud pemberian uang itu mempromosikan suaminya sebagai bakal calon lurah baru.

Kerika sampai di rumah sakit, rombongan ibu-ibu itu rupanya gagal menjenguk Bu Lurah karena ia masih terbaring di ICU. Mereka pun hanya bisa bertemu dengan anak Bu Lurah, Fikri, dan gadis bernama Dian yang sejak tadi diperbincangkan. Di akhir film, penonton akan dibuat tercengang sekaligus kebingungan, karena memperlihatkan adegan yang berbeda dari anggapan masyarakat mengenai jalur cerita film ini. Adegan percakapan Dian dengan seseorang laki-laki paro baya yang merupakan pacar Dian menutup adegan film ini.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan