Konten Toleransi dan Adab Keberagamaan

45 kali dibaca

Merujuk catatan investigatif Wahid Instititue, sedari tahun 2014 hingga 2017, jagat media sosial kerap mempertontonkan pesan-pesan yang menyulut sumbu perpecahan. Layar media sosial keranjingan narasi hitam penuh ujaran kebencian (hate speech) dan caci maki.

Itulah suatu kenyataan yang kian menerungku masyarakat maya. Tak henti-hentinya membikin kegaduhan. Mereka digiring ke dalam tubir hitam radikalisme, fanatisme, dan separatisme berdalih membela agama. Wawasan kebangsaan berkelindan toleransi dan pluralisme menjadi muatan pengajaran yang muskil laku.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Tak ada otoritas keilmuan tunggal di jagat maya. Semua berhak menunjukkan ekspresi eksistensialisme pengetahuannya. Dominasi subjektivitas dalam reproduksi pengetahuan (keagamaan) bukan lagi menjadi entitas pengetahuan sarat makna, tetapi telah mewujud suatu ideologi karena tendensi subjektivitas itu. Ia (pengetahuan keagamaan) tidak lagi bersifat absolut dan universal. Pengetahuan yang telah berubah menjadi ideologi tersebut berpamrih menipu orang demi kepentingan si penganut ideologi tersebut.

Aspek kognitif agama meleleh karena telah mengalami sentuhan emosi yang mendominasi. Beberapa penggalan tertentu ayat Al-Qur’an diinterpretasi secara tekstual-eksklusif demi legitimasi kebenaran pengetahuan yang direproduksinya. Implikasinya, yang kerap tampak menghiasi sebagian layar media sosial ialah konten yang memuat kedangkalan pengetahuan agama, bukan pengetahuan agama hasil sublimasi pemahaman dan penghayatan terhadap aspek-aspek keagamaan secara utuh.

Alih-alih memberikan pengetahuan agama yang didaktis, justru terjebak pada kungkungan embrio perilaku anarkis yang mendarah daging. Beberapa kata seperti “kafir”, “pengkhianat agama”, “komunis”, “liberal”, “syariat Islam”, “musuh Islam”, dan lain sebagainya menunjukkan adanya tendensi subjektivitas angkuh dalam mewartakan aspek agama. Perlu laku kreatif mengisi tiap ruang media sosial sebagai upaya menampik narasi destruktif yang berusaha memajalkan ruh keberagamaan kita.

Maujud Kreativitas

“Dalam proses menjadi, kreativitas mutlak ada,” begitu Albert North Whitehead dalam Filsafat Proses, Proses dan Realitas dalam kajian kosmologi menuturkan ihwal kreativitas. Sebagai suatu nomina (kata benda), kreativitas merupakan suatu kemampuan untuk mencipta. Ia adalah entitas adjektiva (kata sifat) dari asal kata “kreatif” ; memiliki kemampuan untuk menciptakan. Kata “kreatif” mesti disematkan pada suatu subjek; manusia.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan