Ki Battangan, Tokoh Legenda Masyarakat Madura

191 kali dibaca

Ramadhan tahun lalu, saya dan salah seorang teman menghampiri beberapa nara sumber untuk meminta informasi ihwal sosok Ki Battangan. Sosok yang legendaris, keramat, sakti, berkaromah, dan masyhur di kalangan orang Gapura Timur, Sumenep, Madura. Tentunya, nara sumber yang kami temui adalah mereka yang memiliki kaitan dengan Ki Battangan; baik dari segi nasab, keguruan, maupun lainnya.

Sosok Ki Battangan menjadi legenda masyhur di kalangan masyarakat Gapura Timur. Sebab, karomah dan kewalian Ki Battangan sudah melekat di desa yang berjarak 4 Kilometer dari kantor Kecamatan Gapura tersebut. Bahkan, sosoknya masih kerap menjadi porsi pembicaraan yang kian dinikmati, termasuk dalam tongkrongan pemuda desa sendiri.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Dalam beberapa riwayat disebutkn, Ki Battangan memiliki keturunan yang terbilang keramat. Salah satunya adalah Ki Ancaka, sosok yang sampai saat ini makamnya masih sering menjadi tempat ritual masyarakat sekitar, seperti rokat, istighasah, dan lainnya.

Bahkan, di tempat tersebut —biasanya satu tahun sekali— rutin digelar dzikrul ghafilin atau istighasah kubra se-Madura. Setiap setengah bulan sekali, asta Ki Ancaka juga dijadikan tempat istighasah bersama masyarakat; baik dari dalam maupun luar kampung. Dalam sebagian riwayat juga disebutkan bahwa Ki Battangan juga memiliki keturunan bernama Ki Qaffal.

Lantas, apa yang membuat Ki Battangan menjadi sosok masyhur dan keramat?

Nama asli Ki Battangan adalah Ki Qabul. Nama Ki Battangan sendiri diambil dari julukan atas jasa-jasanya. Sebenarnya, Battangan merupakan sebuah akronim bahasa Madura, yang diambil dari dua kata; yakni arabhat (merawat) dan tanang kanan (tangan kanan), kemudian lahirlah akronim bhattangan. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi merawat hutan dengan menggunakan tangan kanan. Uniknya, dalam melakukan hal tersebut Ki Battangan hanya menggunakan tangan telanjang, tanpa arit atau alat apa pun.

Namun, perihal interpretasi akronim tersebut masih terjadi perbedaan di antara beberapa penuturan. Ada yang menyebut, kata battangan berasal dari kata abhabhat (membabat) dan tanang kanan (tangan kanan). Sehingga kemudian maknanya sedikit berubah, yakni membabat hutan dengan tangan kanan. Namun penulis lebih condong pada akronim pertama. Rasionalisasinya adalah karena lebih pas jika dikaitkan dengan sejarahnya. Namun, dari perbedaan penuturan beberapa nara sumber saya yakini sebagai bentuk kekayaan kultur yang mesti dijaga.

Dari lelaku Ki Battangan yang merawat hutan dengan tangan kanan tersebut, maka lahirlah sebuah perkampungan yang diberi nama Bhattangan (Battangan). Battangan sendiri terdata sebagai salah satu kampung yang ada di Desa Gapura Timur hingga saat ini.

Karomah Ki Battangan

Ki Battangan terlahir sebagai manusia yang memiliki keterbatasan fisik. Dengan kaki yang hanya sampai lutut. Namun, di balik keterbatasan itu, Tuhan merahmatinya dengan kemuliaan-kemuliaan dan hal-hal yang menakjubkan, atau biasa disebut sebagai karomah. Dengan keterbatasannya itu —sebagaimana dijelaskan sebelumnya— Ki Battangan berhasil menyulap hutan menjadi kampung Battangan; merawat hutan, membersihkan semak-semak dengan tangan kanan.

Tidak hanya itu, semasa hidupnya, Ki Battangan sering melakukan hal-hal menakjubkan lainnya. Hal-hal yang barangkali tidak bisa dijanglau oleh nalar pikir manusia.

Beberapa di antara peninggalannya masih ada sampai sekarang. Salah satunya adalah sebuah sumur. Sumur pada umumnya hanya digunakan untuk mandi, mencuci, dan lain-lain. Namun, sebagaimana dikisahkan, bahwa sumur milik Ki Battangan penuh dengan cerita ajaib. Dituturkan, sumur itu menjadi salah satu saksi dari kisah-kisah menakjubkan Ki Battangan.

Sumur tersebut —dulu— biasa digunakan Ki Battangan sebagai jalan pintas menuju tempat-tempat jauh, misal ke Pulau Poteran bahkan ke Pulau Jawa. Dalam perjalanannya, Ki Battangan hanya menggunakan sapu tangan sebagai kendaraan untuk menyelam ke dalam sumur dan kemudian bisa menembus ke laut. Setelah itu, Ki Battangan menaiki ikan dalam perjalanan di laut, dan menaiki kelelawar untuk perjalanan di udara. Sehingga, dengan alasan itu, kemudian Ki Battangan melarang para keturunannya untuk mengonsumsi ikan laut.

Karena kekeramatan sumur tersebut, tak banyak orang berani masuk ke dalamnya hingga saat ini. Hanya orang-orang tertentu yang bisa dan berani masuk. Menurut sebagian pernyataan, orang yang pernah masuk ke dalam mengatakan bahwa di tepi bawah sumur tersebut terdapat sebuah tempat seukuran orang tidur. Berdasarkan beberapa kisah, tempat tersebut merupakan tempat pertapaannya.

Ki Battangan juga memiliki karomah sebagaimana lumrah orang dulu memilikinya, yakni ilmu mandraguna atau yang biasa dikenal sebagai ilmu kanuragan. Karomah ini biasa ditemukan pada orang atau santri terdahulu. Sebab, salah satu kebiasaan para santri —pada masa itu— adalah belajar ilmu kanuragan sehabis ngaji di surau. Maka tak ayal banyak orang zaman dulu yang sakti mandraguna. Menariknya, dalam latihan ilmu kanuragan tersebut para santri juga diajari ilmu batin; baik terkait hubungan mereka dengan Tuhan (relasi vertikal) atau dengan manusia (relasi horizontal).

Menurut sebuah kisah, Ki Battangan pernah menantang Ki Gurang-Garing untuk beradu kesaktian. Ki Gurang-Garing juga merupakan sosok yang keramat, bahkan sampai sekarang makamnya yang terletak di Kecamatan Batang-Batang selalu dikunjungi para peziarah; baik lokal atau luar daerah. Ki Battangan menantang Ki Gurang-Garing untuk masuk ke sebuah botol kecil. Uniknya, dengan ilmu yang dimiliki, Ki Battangan berhasil masuk, sedangkan Ki Gurang-Garing gagal.

Singkat cerita, setelah itu, Ki Battangan keluar dari botol dan berkata dengan nada canda: “Dhika banyak galluk ngakan. Mon bula jhaghung sittong cokop kaangghuy sataon, mon dhika jegung tello bighi coma cokop saare, ghaniko se madhaddhi moros” (Sampean terlalu banyak makan. Kalau saya, satu buah jagung cukup untuk satu tahun, sementara sampean tiga biji jagung hanya cukup untuk satu hari, itu yang menyebabkan diare).

Dari kisah tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa orang-orang terdahulu memang ahli tapa . Bayangkan, sebuah tiga biji jagung selama satu hari dianggap sebagai sebuah porsi makan yang berlebihan. Atau barangkali, ada maksud lain dari kata ‘sebiji jagung’ yang penulis tidak memahaminya. Wallahu a’lam…

Multi-Page

Tinggalkan Balasan