Keunikan Gaya Bercerita Al-Qur’an

118 kali dibaca

Sebagai seorang Muslim, kita menyadari bahwa sekitar sepertiga dari Al-Qur’an berisi cerita. Dalam surat teragungnya (Al-Fatihah), Allah mengajarkan agar meminta petunjuk melalui cerita tentang orang-orang beriman sebelum kita.

Hal ini menunjukkan bahwa cerita memiliki kekuatan besar untuk menyentuh hati dan pikiran, berlawanan dengan anggapan bahwa cerita hanyalah bualan yang diperuntukkan bagi anak-anak.

Advertisements

Al-Qur’an lebih dari sekadar cerita. Ia merupakan pedoman yang membimbing manusia menjadi hamba yang lebih baik. Artikel ini menggali makna gaya bercerita unik dan mendalam Al-Qur’an, serta menyoroti hikmah dan dampak ilahinya.

Al-Qur’an menawarkan kisah-kisah terbaik dalam ajarannya kepada Nabi Muhammad. Meskipun beberapa pakar berpendapat bahwa kisah Nabi Yusuf A.S adalah yang paling istimewa, Al-Qur’an menegaskan bahwa kisah yang dipilih Allah memiliki nilai dan ajaran yang mendalam.

Ini menegaskan betapa pentingnya bercerita dalam Al-Qur’an untuk memberikan arahan kepada orang-orang beriman, serta menguatkan kebenaran sebelumnya. Allah tidak hanya memilih kisah-kisah ideal untuk diceritakan, tetapi juga menceritakannya dengan cara yang paling sempurna. Seperti dalam surat pertama surat Yusuf yang mengakui bahwa gaya bercerita Al-Qur’an adalah yang terbaik.

Surat Yusuf ayat 111 memperdalam pemahaman kita tentang beberapa fitur penting dari bercerita dalam Al-Qur’an dan menuturkan bahwa metodologi tersebut paling baik dalam mendukung misi utama Al-Qur’an “petunjuk dan rahmat bagi orang-orang beriman.” Al-Qur’an memanfaatkan tradisi bercerita orang Arab untuk mencapai fungsi utamanya: memenuhi panggilan ilahi. 

Berbasis Pelajaran

Muḥammad ibn ʿAshur (w. 1973), seorang ahli Qur’an terkemuka mengungkapkan bahwa penceritaan Al-Qur’an tidak dianggap sebagai ‘penceritaan terbaik’ hanya karena berbasis pelajaran, atau karena terbatas hanya pada kisah-kisah yang benar. Melainkan efektivitasnya dalam menyampaikan pelajaran-pelajaran tersebut ke dalam pandangan pembaca dan pendengarnya.

Al-Qur’an tidak menjelaskan secara detail tentang nama-nama orang dan garis keturunannya, serta nama-nama kota, misalnya “Di mana gua tempat Ashabul Kahfi tertidur?” Berbeda dengan sejarah dan biografi yang kita kenal. Sebab, informasi yang berlebihan dapat mengalihkan perhatian kita dari menyerap hikmah dan pesan dalam kisah itu sendiri.

Allah menulis kisah-kisah Al-Qur’an dengan cara yang paling sempurna dan bijaksana, menolong kita dari kesesatan dan mencegah terulangnya kejadian kelam dalam sejarah.

Al-Qur’an sering kali mengulangi cerita-ceritanya bukan tanpa alasan. Ini seperti kita butuh diingatkan berkali-kali oleh ibu untuk menggosok gigi saat kecil. Sebab, manusia  punya sisi anak kecil yang butuh panduan untuk mengatasi ketidakberanian dan ketidaksabaran diri. Jika tidak, kecenderungan kita untuk mencoba segalanya sendiri dan menginginkan hal-hal secara instan bisa merugikan kesejahteraan manusia sebagai khalifatullah.

Cerita-cerita Al-Qur’an, dengan pesan yang bijaksana, membantu kita menyadari realitas dan mengajak kita untuk berpikir bijak.

Buat yang Berakal

Kisah-kisah dalam Al-Qur’an secara khusus disusun untuk melibatkan para pembacanya. Al-Rāghib al-Iṣfahānī menjelaskan bahwa kisah-kisah ini bertujuan sebagai jembatan untuk memindahkan makna ke dalam kehidupan kita, menunjukkan pentingnya refleksi dalam memahami pelajaran dari Al-Qur’an.

Cara penyajian kisah-kisah, yang tersebar di berbagai surat, bukan hanya untuk menjaga ketertarikan pembaca tetapi juga untuk mencegah terlalu tenggelam dalam cerita sehingga menghambat introspeksi.

Al-Qur’an menyajikan kisah-kisahnya sebagai sarana bagi pencari kebenaran untuk merenungkan tentang kehidupan dan tujuannya.

Ibn ʿAbbas menyatakan bahwa kunci untuk memahami Al-Qur’an terletak pada keingintahuan dan kejernihan hati. Al-Qur’an, dengan semua kisah dan pesannya, menargetkan mereka yang berhati terbuka dan berpikir dalam. Dan pengaruhnya tergantung pada kemampuan pembaca untuk terlibat secara aktif dalam pencarian makna.

Ibn ʿAqīlah al-Makkī dan Ibn ʿAbdīn menekankan pentingnya menelaah Al-Qur’an untuk mengungkap lapisan-lapisan makna yang lebih dalam. Kisah-kisah dalam Al-Qur’an tidak hanya berfungsi untuk mengajarkan pelajaran moral tetapi juga terstruktur untuk memperkuat berbagai tema dan mengilhami pemikiran yang mendalam. Ini menantang pembaca untuk tidak hanya membaca teks tertulis tetapi untuk mencari hubungan makna yang lebih luas dalam konteks kehidupan mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka.

Gaya Realisme

Al-Qur’an dikenal karena keakuratannya dalam bercerita tentang sejarah dan kebenaran, mengajarkan kita tentang masa lalu dan memberi wawasan masa depan tanpa mengarang cerita bualan.

Kisah-kisah ini bukan hanya untuk menegaskan kenabian Muhammad SAW, tetapi juga untuk meningkatkan pengetahuan umat manusia, menunjukkan bahwa kebenaran historis Al-Qur’an dan pesan-pesannya datang dari sumber yang Yang Maha Tahu. Al-Qur’an menghindari menceritakan kisah-kisah bualan yang terbukti salah, menunjukkan hikmah dan presisi dalam menyampaikan cerita-cerita sejarah yang benar.

Al-Qur’an juga menolak gagasan bahwa kebahagiaan sejati bisa datang dari kekayaan material atau dongeng yang selalu berakhir bahagia.

Dengan menceritakan kisah nyata, Al-Qur’an mengajak kita untuk memandang dunia secara realistis, memahami bahwa kehidupan ini penuh dengan cobaan dan bahwa kebahagiaan sejati terletak dalam menemukan makna dan tujuan itu sendiri.

Kisah-kisah dalam Al-Qur’an juga mengingatkan kita bahwa seringkali manusia sendiri yang menyebabkan penderitaan mereka sendiri, dan bahwa keberhasilan dan keselamatan di dunia ini jarang terjadi, mendorong kita untuk berfokus pada akhirat sebagai tempat yang hakiki.

Dengan cara ini, Al-Qur’an tidak hanya menjawab pertanyaan besar tentang mengapa kesulitan dan penderitaan tercipta, tetapi juga menawarkan pandangan yang seimbang tentang kehidupan.

Cerita-ceritanya mengajarkan kita bahwa meskipun manusia menghadapi kesulitan, ada hikmah dan tujuan di baliknya. Selain itu, Al-Qur’an mengajak manusia untuk tidak hanya mengejar kebahagiaan yang bersifat sementara, tapi juga mencapai kebahagiaan abadi dengan terus melakukan hal-hal baik.

Cerita-cerita dalam Al-Qur’an mengingatkan manusia akan pelajaran penting tentang kehidupan. Mereka mengajarkan kita tentang iman kepada Allah dan bagaimana manusia bisa bertahan di tengah kesulitan. Meskipun tidak semua orang memahami betapa berharganya cerita-cerita ini, bagi mereka yang percaya pada Al-Qur’an dan rajin mengulang-ulanginya, mereka akan menemukan banyak pengetahuan dan bimbingan di dalamnya. Cerita-cerita ini memberi kita pelajaran khusus yang membantu kita menjadi lebih baik di dunia dan mendapatkan kebahagiaan di akhirat.

Referensi

Ibn ‘Aqīlah al-Makki, al-Ziyadah wal-iḥsān fi ‘ulum al-Qur’ān (Sharjah: Markaz al-Buhūth wal-Dirāsāt, 2006), 6:368–75. 6:371.

Muhammad al-Ṭahir ibn ‘Ashur, Tafsīr al-taḥrīr wal-tanwīr (Tunisia: Dār al-Tūnisīyah lil-Nashr, 1984), 1:64.

Ismā‘īl ibn Kathīr, al-Bidāyah wal-nihāyah (Beirut: Dar Iḥya’ al-Turath al-‘Arabi, 1988), 8:329.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan