Kasus UAS dan Pemberantasan Radikalisme-Ekstremisme

119 kali dibaca

Belakangan ini nama penceramah kondang asal Indonesia, Ustaz Abdul Somad atau akrab dipanggil UAS seketika menjadi buah bibir khalayak ramai. Seluruh media di Indonesia memberitakan. Hal ihwal berawal dari penolakan Singapura akan kedatangan UAS ke negaranya.

Tentu, kita akan bertanya-tanya mengapa negara Singapura menolak bertandangnya UAS, kendati sekadar untuk berlibur bersama keluarga? Bukankah ia termasuk ulama kesohor di Indonesia dalam bidang ilmu hadis?

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Ternyata, usut punya usut, ditolaknya UAS oleh negara Singapura karena beberapa alasan. Sekurang-kurangnya, menurut Kementerian Dalam Negeri Singapura, sebagaimana dikutip beberapa media bahwasanya ada empat alasan. Pertama, UAS dinilai tengah menyebarkan ajaran ekstremisme dan segregasi, sehingga kedatangannya ditolak atau tidak diterima.

Kedua, UAS pernah berceramah tentang bom bunuh diri, dan membolehkan jika terjadi pada konflik Israel-Palestina. Pun, ia menyatakan bahwa bom bunuh diri sebagai bentuk perjuangan dan termasuk mati syahid bagi pelakunya.

Ketiga, UAS pernah menyebutkan salib Kristen merupakan tempat tinggal atau rumah jin kafir (roh jahat). Kemudian, secara tegas negara Singapura menyatakan bahwa Ustaz Somad pernah menyampaikan komentar yang tidak ‘sedap’, yaitu merendahkan agama lain (Kristen).

Keempat, kerap mengafirkan ajaran agama lain dalam setiap ceramahnya. Alasan inilah yang membuat Pemerintah Singapura menolak UAS karena dinilai tengah menganjurkan kekerasan serta mendukung ajaran radikal-ekstremis. Penolakan ini, tentu saja, bertujuan demi menjaga keutuhan dan keberlangsungan dalam berbangsa dan bernegara.

Sebelum negara Singapura menolak kedatangan UAS, ternyata ada beberapa negara yang pernah menolak kedatangan UAS bahkan tanpa alasan apapun, seperti dilansir dari pelbagai media. Pertama, pada 2019 UAS ditolak masuk ke Jerman-Belanda karena dianggap seringkali membuat pernyataan yang intoleran bahkan cenderung provokatif. Kedua, Hong Kong pada Desember 2017. Ketiga, Timor Leste pada 2018 ketika hendak mengadakan tablig akbar. Namun, saat tiba di bandara, petugas imigrasi menjegalnya karena diduga terkait terorisme.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan