Karangan Muridku

376 kali dibaca

Aku membaca buku tugas anakku dengan cermat. Aku membuang napas, berat. Bu Ani, guru pelajaran mengarang anakku itu, memandangku.

Pagi itu, Bu Ani memanggilku untuk bertemu di taman. Dia teman kampusku waktu kami sama-sama kuliah di kota dulu. Raut wajahnya getir. Dia perempuan berusia tiga puluhan dan memiliki satu anak seusia anakku. Mereka sama-sama duduk di kelas tiga sekolah dasar.

Advertisements

Ani menungguku sampai selesai membaca karangan anakku. Lantas dia tersenyum. Aku menatapnya. Ada sesal mengakar di mataku dan aku rasa dia menangkapnya.

“Anakmu gadis kecil yang hebat. Dia pandai mengarang, sama sepertimu ketika kuliah dulu. Apa kamu mengajarinya?” tanyanya, memecah kebisuan di antara kami.

Aku menggeleng dan membetulkan letak kaca mata. Taman yang tak jauh dari rumahku tidak terlalu ramai hari itu. Aku bilang padanya bahwa kemungkinan putriku bisa menulis karena dia sering melihatku menulis di buku diary atau mengetik di laptop.

“Kamu masih menulis diary?”

“Ya. Untuk menghiburku saja.” balasku.

Aku membuang pandang. Dia menatapku, lekat, seperti mengecamku.

“Kamu liat sendiri bagaimana karangan putrimu di kelas. Aku bukan lulusan psikologi, tapi aku seorang ibu. Bagaimana kau bisa abai pada perkembangan putrimu sendiri?” geramnya. Dia menambah.

“Apa gunanya pendidikan kalau kau sendiri tidak bisa berbuat apa-apa untuk anakmu.”

Aku tak menjawab. Dadaku bergemuruh. Aku membiarkannya menohokku dengan kata-katanya. Dia memendar pandang dan berdiri.

“Aku hanya ingin memberitahu itu saja. Aku harus pergi. Suamiku sudah menunggu.”

“Terima kasih.” balasku dan dia pergi, meninggalkanku sendirian.

Penyesalan menyemak di dada. Air mata merembes dari sudut pelupuk mataku. Aku mengusapnya sembari memandang Ani menjauh lalu hilang bersama deru mobil. Seandainya aku lebih memilihnya daripada Anjana, mungkin hal ini tak akan pernah terjadi.

Aku membaca karangan putriku sekali lagi sambil menahan golakan batin yang menikamku. Di taman ini, Ani membuktikan bahwa aku memang seorang pengecut.

***

“Mengapa kau bertemu dengannya?” tanya suamiku. Aku tersentak dan segera menghapus air mata.

“Ada yang harus aku sampaikan.” jawabku sekenanya.

Dia tak memperpanjang pertanyaannya. Namun, aku tahu, dia merasa cemburu setelah melihatku menangis.

“Aku menemuinya untuk memberitahu keadaan putrinya yang memprihatinkan.” jelasku. Dia tak membalas. Dalam perjalanan hingga tiba di rumah, tak ada pembicaraan di antara kami.

Putriku tengah bermain di rumah temannya tak jauh dari kediamanku. Aku harap putriku tidak mengalami hal serupa dengan Anis, putri Radian. Pikiranku berkelebat dan memutar peristiwa yang kualami di kelas dengannya.

“Anis,” ucapku dan anak itu menulis sambil menitikkan air mata.

Waktu itu, aku meminta anak-anak kelas tiga mengarang pengalaman menyenangkan yang pernah mereka alami. Mereka antusias. Aku mafhum bahwa sebagian dari mereka tak suka mengarang. Namun, kutelateni mereka agar tidak hanya bisa membaca, menggambar, atau menghitung melainkan juga menulis. Saat waktu penyetoran tiba, aku membawa tugas mereka ke ruang guru dan membacanya satu-satu.

Mereka bercerita tentang kunjungan mereka ke rumah nenek, pergi ke kebun binatang, memancing, pergi ke pantai, diajak orang tua ke Singapura, main sama adik yang lucu di rumah, dan beberapa kisah lainnya. Tulisan mereka tidak terlalu panjang, kisaran tiga sampai empat paragraf dengan tulisan seperti cakar ayam. Namun, karangan Anis berbeda dari yang lain. Aku membacanya. Ada empat paragraf dengan tulisan seperti serdadu malaksanakan apel pagi. Di beberapa bagian kertas ada bekas tetes air mata.

Hari itu hari Minggu. Ayah membawaku pergi ke kebun binatang. Ibu tidak ikut. Dia pergi ke rumah temannya. Di sana, aku gembira sekali. Ada banyak hewan. Ada gajah, harimau, buaya, jerapah, kuda nil, dan hewan-hewan lainnya. Aku dan ayah berfoto di sana. Dia tersenyum. Aku tersenyum juga.

Setelah berfoto-foto dengan hewan-hewan itu, aku dan Ayah membeli es krim dan main ayunan. Es krimku jatuh. Aku menangis, tapi Ayah memberikan es krimnya padaku. Aku tidak mau. Aku mau beli yang baru. Ayah menolak sambil mencubit pipiku. Aku marah dan menangis lebih keras lagi sampai akhirnya dia menggendongku dan membawaku ke abang tukang es krim. Aku memilih es krim vanila. Kemudian, kami pergi ke taman dan bermain dengan gembira.

Di sana, aku melihat Ibu menggendong anak kecil bersama seorang lelaki. Aku memberitahu Ayah. Dia tidak tersenyum lagi. Aku bertanya pada Ayah siapa anak kecil yang digendong Ibu. Ayah tak menjawab. Aku memanggilnya. Ibu menoleh dan berlalu. Aku bertanya lagi pada Ayah mengapa Ibu tidak mendatangiku. Ayah tidak menjawab. Dia menggendongku dan membawaku pulang.

Malam harinya, Ibu dan Ayah bertengkar. Aku sembunyi di belakang pintu. Ayah memarahi Ibu, memukulnya dan melemparinya dengan vas bunga. Aku takut. Aku ingin bilang pada Ayah agar berhenti memukul Ibu. Kemudian Ibu pergi dan tak pulang lagi. Aku selalu menangis setiap hari. Namun, Ayah bilang kalau dia tidak suka melihatku menangis. Dia lebih suka melihatku tersenyum. Aku tersenyum meski aku kadang menangis tanpa sepengetahuannya. Sekarang aku tinggal bersama Ayah dan dia melarangku menangis jika rindu Ibu. Setelah itu, ayah menikah dan aku memiliki Ibu baru. Tapi, aku lebih suka ibuku.

Membacanya, aku tersentak dan menangis di ruang guru.

***

Beberapa hari setelah bertemu dengannya, dia meneleponku. Aku menjawabnya dan berbicara beberapa jenak.

“Cukup! Aku bukan istrimu lagi!” balasku setengah berteriak. Sambungan telepon kuputuskan sepihak.

Dia keras kepala dan memaksa meneleponku. Aku memblokir nomornya, tapi dia menelepon menggunakan nomor lain. Suamiku dibuat tak nyaman oleh dering telepon yang tak kuangkat. Berkali-kali. Akhirnya suamiku yang menjawabnya.

“Radian, hentikan. Dia bukan istrimu. Jika kau memaksa, aku tak segan-segan membunuhmu!!” bentaknya dan membanting telepon itu.

Suamiku marah-marah. Aku diam. Tak menjawab. Lalu, dia pergi ke luar. Deru mobilnya membawa serta pertanyaan yang dilontarkannya barusan, apakah kau masih suka padanya? Dadaku sesak. Aku teringat putriku. Dia sembunyi di belakang pintu. Aku memeluknya dengan punggung terguncang dan menyumpahi Radian, mantan suamiku yang meninggalkanku dan memilih perempuan laknat itu. Dia menelepon dan memintaku untuk kembali padanya. Bedebah!!

14 April 2023.

Multi-Page

One Reply to “Karangan Muridku”

Tinggalkan Balasan