Inilah Kitab Hadis Sahih Berdasarkan Abjad

2.076 kali dibaca

Secara fundamental, hadis merupakan sumber kedua dalam Islam setelah Al-Quran. Ia sebagai pedoman hidup manusia (way of life) yang harus dipelajari, dipahami, dan tentu saja diamalkan isinya.

Membaca kitab-kitab hadis sungguh sangat menarik, menyenangkan, dan menenangkan apalagi kitab hadis yang kualitas atau tingkat kategorinya sahih. Dengan membaca kitab hadis, seolah kita sedang berdialog langsung dengan Nabi, seolah melihat dengan mata kepala terhadap kebiasaan, sifat-sifat, etika, moral ataupun akhlak Nabi Muhammad, serta mengetahui sirah perjalanan hidup Rasul secara komprehensif.

Advertisements

Itulah kira-kira yang akan tergambar saat kita membaca kitab Mukhtarul Ahaditsin Nabawiyah yang ditulis Sayid Ahmad Al-Hasyimi Bek, seorang penulis andal dan guru besar Universitas Al-Azhar Kairo, ini. Kitab ini secara khusus mengoleksi hadis-hadis yang kualitasnya sahih, dan sebagian lagi berkualitas hasan dengan validitas sanad yang jelas, perawi yang dhabit (kuat ingatannya) dan adil, dan tidak terdapat illat.

Berbeda dengan kitab-kitab hadis lainnya, yang biasanya mempunyai bab-bab yang berisi hadis-hadis maudlui (tematik), kitab Mukhtarul Ahaditsin Nabawiyah ini justru mempunyai bab-bab sesuai dengan urutan  huruf hijaiyah. Yakni, dari huruf alif (hamzah) sampai ya. Kitab ini memuat 1582 (seribu lima ratus delapan puluh dua) hadis.

Seperti diketahui, bahwa huruf Hijaiyah, yang pertama kali di tulis oleh Nashr bin Ashim al-Laitsi ini berjumlah 28. Atau 30 huruf jika dimasukkan huruf rangkap lam alif dan hamzah sebagai huruf yang berdiri sendiri. Maka, dalam kitab Mukhtarul Ahaditsin Nabawiyah ini juga berjumlah 28 bab, dan di dalam setiap babnya mempunyai jumlah hadis yang berbeda-beda.

Misalnya, huruf alif (hamzah) pada hadis pertama;

آتي باب الجنة يوم القيامة فأستفتح فيقول الخازن من أنت؟ فأقول محمد فيقول بك أمرت ألا أفتح لأحد قبلك

Hadis yang berawalan huruf alif (hamzah) ini menjelaskan bahwa nanti pada hari kiamat, saat Nabi membuka pintu surga, lalu malaikat penjaga surga itu bertanya “Siapa engkau?”,  Nabi menjawab “Aku Muhammad”. Maka malaikat penjaga pintu surga itu berkata: “Aku diperintah agar tidak membuka pintu surga kepada seorang pun sebelum engkau.” (HR Ahmad, dari Anas, hal.3). Dalam bab alif ini terdapat 435 hadis yang dalam setiap hadisnya topiknya berbeda-beda.

Baca juga:   Laila & Majnun, Alegori Cinta Sufistik

Kitab ini membuat saya begitu penasaran dan ingin segera menyelesaikan satu bab kemudian pindah ke bab berikutnya ketika selalu menemukan topik-topik baru dalam setiap hadisnya. Misalnya, pada bab dengan huruf hijaiyah ba. Di sini kita akan menemukan topik bermacam-macam, seperti hadis tentang keutamaan membaca “Bismillahirrrahmaanirrahim”, tentang anjuran berbuat baik kepada kedua orang tua, tentang lima fondasi Islam, tentang tujuh kesulitan atau tanjakan seorang hamba meraih surga, tentang orang kikir yang enggan membaca selawat kepada Nabi, dan lain sebagainya. Semua hadis-hadis tersebut diawali dengan huruf ba (hal.53-58).

Pada huruf qaf, saya juga menemukan banyak sekali hadis yang hampir mayoritas hadisnya berkategori sahih. Misalnya, hadis tentang matinya seorang mukmin di sisi Allah lebih agung dari hilangnya dunia, tentang larangan saling menganiaya (zalim), tentang anjuran berinfak, tentang sifat sombong yang hanya patut di miliki oleh Allah, tentang orang mukmin yang sabar atas musibah yang menimpa dirinya, anaknya dan hartanya, sedang ia tetap sabar, maka Allah akan merasa malu untuk menimbang amalnya nanti di hari kiamat karena saking besarnya pahala yang ia peroleh. Dan masih banyak lagi hadis-hadis yang sangat menarik lainnya. (hal 104-110).

Pada bab huruf mim, Sayid Ahmad Al-Hasyimi Bek, yang lahir di Kairo pada tahun 1295H/1878M, ini menulis hadis tentang keutamaan air zam-zam, tentang rumah seorang mukmin yang apabila di dalamnya selalu di baca Al-Quran, maka akan diturunkan sakinah (ketentraman jiwa), disiramkan rahmah (kasih sayang), dijaga para malaikat, dan selalu disebut-sebut namanya oleh Allah. Kemudian, juga ada tentang mahabbah (cinta); bahwa orang yang dalam hatinya hanya diliputi mahabbah kepada Allah, maka jasadnya akan diharamkan terhadap api neraka.

Baca juga:   Belajar Bahagia dari Imam al-Ghazali

Kemudian, yang terakhir yaitu bab huruf ya, di mana ia merupakan bab yang hadisnya berjumlah 16 hadis. Pada bab ini, Syekh Ahmad Al-Hasyimi Bek menulis hadis tentang  kecintaan Allah terhadap orang yang selalu beramal saleh, tentang fleksibelitas; bahwa seseorang hendaknya bersikap mempermudah segala urusan terutama dalam metode dakwah, memasukkan rasa gembira di hati orang lain dan tidak mempersulit.

يسروا ولا تعسروا و بشروا ولا تنفروا

“Permudahlah olehmu dan jangan persulit. Dan berikanlah kabar gembira olehmu dan jangan kamu gusarkan” (HR Bukhari, hal 160).

Kemudian di akhir tulisannya dalam kitab ini, Sayid Ahmad Al-Hasyimi Bek menutup dengan bab Tahzibun nufus (pendidikan jiwa), yang di dalamnya berisi hadis tentang iman dan Islam, tentang ikhlas, tentang khauf (takut), roja (berharap), mahabbah (cinta) kepada Allah, tawadhu, haramnya sombong dan ujub, tentang keutamaan membaca selawat kepada Nabi, dan lain sebagainya. Sehingga, nyaris kitab ini tidak mempunyai kekurangan karena hampir segala aspek kehidupan manusia tercakup di dalamnya.

Data kitab     

Judul kitab                  : Mukhtarul Ahaditsin Nabawiyah
Penulis                       : Ahmad Al-Hasyimi Bek
Penernit                     : Nurul Huda Surabaya
Tahun Terbit               : TT
Tebal Halaman           : 204

Multi-Page

Tinggalkan Balasan