Ibu Jelmaan Merpati

389 kali dibaca

Suasana subuh masih pekat menyelimuti rumah berpagar tanaman bonsai. Di belakang rumah, nampak sesosok perempuan tua menimba air di sumur yang sudah berlumut. Peluh satu, dua, luruh jatuh ke dalam sumber air bagi keluarga itu.

Dari pohon trembesi sebelah kanan sumur, terdengar indah kicauan burung emprit dan kawanannya. Seolah menemani perempuan renta yang masih sibuk dengan tali timba yang ditarik melewati katrol penuh karat, pertanda usia dan berjuta jasa sudah diabdikannya berember-ember air untuk penghuni rumah.

Advertisements

“Aryo, tolong kamu nyalakan tungku dapur. Ibu hendak membuat sarapan!” perintah perempuan sepuh itu pada Aryo, anaknya, yang baru saja bangun, saat hendak masuk kamar kecil.

“Baik, Bu!”

Dengan wajah yang masih kusut, Aryo yang baru pulang dari pesantren itu segera menyalakan tungku. Selesai itu ia kembali ke sumur untuk mengambil wudhu. Diamatinya sang ibu yang dengan telaten mencuci kedelai bahan baku tempe. Sejak kecil ia dibesarkan sang ibu dengan pundi-pundi untung dari penjualan tempe. Tepat ketika ia selesai mengambil wudhu, ibunya juga sudah selesai mencuci kedelai. Bersama mereka melangkah masuk rumah.

“Bukannya ibu sakit? Mengapa masih membuat tempe?” tanya Aryo.

“Alhamdulillah sudah membaik, Nang. Justru obat bagi ibu, ya membuat tempe seperti ini, ” balas ibunya sambil memasukkan kedelai kedalam panci.

Di antara semburat emas ufuk timur yang merambati sela-sela daun trembesi dan pohon nangka di samping dapur, ikut mengudara pula uap masakan ibu yang selalu menyambut pagi dengan senyum. Paduan suara burung merpati peliharaan sang ibu, juga ikut meracik suasana pagi itu. Meski tangan itu sudah berukir keriput, ia tetap lincah mengupas bawang—sesekali tangannya memasukkan daun kelapa kering ke dalam tungku—sambil mengecek nasi yang tengah ditanak.
***

Satu jam kemudian, ibu sudah menata hidangan di atas tikar pandan. Di dapur, berbagai alat masak sudah bersih. Biji-biji kedelai juga tampak sedang diangin-anginkan supaya dingin. Telur, sayur lodeh, dan sambal teri tertata manis di mangkuk-mangkuk. Sama sekali tiada nampak lelah di wajah tua ibu.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan