Hujan

442 kali dibaca

Sementara miliaran rintik air—dari ketinggian dua belas ribu dua puluh lima meter—tampak riang meluncur ke bumi sembari tanpa henti menyenandungkan pujian ke hadirat Gusti Allah Ta’ala—Dzat Pencipta, Pengatur, Pemelihara alam raya—, serintik air malah memamerkan raut nestapa.

Ini menjadikan beberapa rintik air yang meluncur dekat dengannya itu berkurang kadar kegembiraan mereka. Lalu satu di antara mereka—yang paling gendut—berkata, “Setelah sekian waktu mengawang kemudian menyatu dalam gumpalan awan, kini diciptakan kembali oleh Gusti Allah Ta’ala sebagai rahmat untuk para makhluk di bawah sana, sudah semestinya kita bahagia. Namun, kenapa tampang sampean malah njeluntrut seperti itu; apa sampean tidak suka dengan peran yang diberikan-Nya pada sampean ini?”

Advertisements

Mula-mula serintik air yang paling kurus itu tampak ragu, namun setelah mendapati mereka sepertinya menunggu jawabannya, ia pun bercerita:

Baca juga:   Seorang Perawat yang Mengusik Masa Lalu

Pada siklus sebelumnya, beberapa saat setelah ia manggon di sebuah sumur, seseorang datang untuk menimbanya. Awalnya ia menduga orang itu bakal menggunakannya untuk wudhu, memasak nasi atau menyirami tanaman—sebagaimana nasibnya di lain tempat pada siklus-siklus yang telah lewat. Akan tetapi, jauh di luar perkiraannya, orang itu menjadikannya campuran untuk membuat arak.

Suatu malam, seorang bujang tanggung membeli sebotol minuman yang mana kini ia berada di dalamnya. Beberapa saat kemudian, di pojok pekarangan suwung, bujang tanggung itu menenggaknya bersama seorang teman. Di dalam lambung si bujang, ia masih dapat mendengar dan menyimpulkan si bujang mabok karena gadis yang dicintainya memilih lelaki lain sebagai pacarnya. Namun kemudian, obrolan mereka yang terdengar kian ngglayar itu sampai pada simpulan bahwa si gadis menolaknya pasti karena ia tak punya sepeda motor untuk mengajaknya jalan-jalan.

Baca juga:   Kisah Fitri yang Viral

Beberapa saat kemudian, agak sempoyongan si bujang pulang ke rumahnya, menemui ayahnya yang tampak belajar—mengeja—huruf-huruf Al-Qur’an. Seakan-akan tak peduli dengan apa yang sedang dilakukan oleh ayahnya itu, ia langsung minta dibelikan sepeda motor.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan