Homo Politicus: Tindakan Adalah “Koentji”

179 kali dibaca

لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِىۡۤ اَحۡسَنِ تَقۡوِيۡمٍ {٤} ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ {٥} إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ {٦}

Artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (4), kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (7), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan; maka mereka akan mendapatkan pahala yang tidak ada putus-putusnya (6).” (QS At-Tin [95]: 4-6)

Advertisements

Manusia diciptakan dalam ahsani taqwīm; dalam sebaik-baiknya bentuk, dengan anugerah tertinggi berupa akal yang sehat dan ilmu pengetahuan yang luas. Namun suatu waktu, saat karunia yang mulia itu tidak dipergunakannya dalam kebenaran, mereka dapat terjatuh ke dalam asfala sāfilīn; relung terendah, titik terhina hidupnya. Keberpalingan manusia dari esensi dan fitrah sucinya itu menenggelamkannya ke dalam kubangan nista, karena mereka telah menyia-nyiakan dan menyalahgunakan pemberian Tuhan yang sedemikian besar (Muhammad Sayyid Thanthawi, 1998: 446-447).

Hari-hari ini, untuk melihat bagaimana kandungan firman di atas ‘bekerja’, bisa kita saksikan wujud dan puncak ironinya saat seorang pejabat, yang cendekia, yang berlimpah harta–setelah disumpah jabatan atas nama Tuhan–terperangkap dalam kasus korupsi: betapa anugerah yang meruah, intelektualitas yang tinggi dan gelar kesarjanaan yang berjibun sempurna terlacuri oleh tindakan dan perilaku menyimpang dan memalukan. Maha Benar Tuhan atas segala firman-Nya.

Karena itu, betapapun fitrah dan esensi manusia diuraikan sedemikian suci, ia tidak dapat dijelaskan secara pasti, seperti esensi benda-benda mati. Manusia tidak seperti sebatang rokok, misalnya, yang esensinya dapat dilukiskan dengan jelas: bahwa ia diproduksi oleh seseorang, dengan konsepsi yang utuh di kepalanya tentang prosedur dan hingga tujuan pembuatan sebatang rokok tersebut. Dan terjadilah konepsi itu sebagaimana mestinya.

Adapun manusia, ia ada, terlahir ke dunia, kemudian membentuk esensinya sendiri. Seorang balita yang baru dilahirkan, misalnya, apakah ia akan menjadi pribadi yang baik atau buruk? Apakah ia akan menjadi seorang penolong atau penjahat? Apakah ia akan sukses atau gagal? Pertanyaan-pertanyaan di atas, akan terjawab semata-mata dengan apa yang ia wujudkan sendiri, dalam perjalanan panjang hidupnya. Esensi-esensi itu tidak dapat diuraikan sedini mungkin.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan