Guru dan Tantangan Pendidikan

Pendidikan dengan segala kekurangan-kelebihannya masih menjadi harapan demi kehidupan yang lebih baik. Pendidikan menjadi media representatif bagi anak bangsa untuk memahami jati diri manusia, relasi manusia dengan alam, posisi alam di mata manusia dan, bagaimana memandang manusia seutuhnya hingga memiliki pemahaman secara komprehensif.

Namun, masih adanya pandangan demi pandangan sinis pada sektor pendidikan menjadi pekerjaan rumah bagi praktisi pendidikan, lebih-lebih mereka para orang terhormat –secara sosial dan struktural- untuk mampu mengambil poin penting dari semua fenomena yang berhubungan dengan aspek pendidikan. Mulai dari insfrastruktur sekolah, moralitas peserta didik yang akhir-akhir ini mengkhawatirkan, kualifikasi guru, kreativitas anak didik, muatan materi sekolah, dan penanaman pendidikan kewarganegaraan tidak bisa dipandang secara parsialistik.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Tak pelak, persoalan demi persoalan membutuhkan jalan keluar dengan hadirnya sebuah terobosan baru pada sektor pendidikan. Tak terkecuali reformasi pendidikan dengan model top down atau sebaliknya bottom up. Ilyasin dalam buku Manajemen Pendidikan Islam; Konstruksi Teoritis dan Praktis, menyatakan bahwa reformasi pendidikan melalui pelaksanaan desentralisasi pendidikan dalam rangka otonomi daerah yang telah berjalan telah sangat menentukan sosok dan kinerja dari sistem pendidikan, terutama sistem pendidikan nasional di masa depan.

Baca Juga:   Aku dan Pesantrenku (2): Menemu Makna Istikomah

Pendidikan sebagai jantung sekaligus tulang punggung masa depan bangsa dan negara bahkan keberhasilan suatu bangsa sangat ditentukan oleh keberhasilan dalam memperbaiki dan memperbarui sektor pendidikan. Di sisi lain, sistem pendidikan Islam sebagai kawah candradimuka pembentuk manusia sempurna sebagai fondasi awal dalam pembangunan masyarakat madani dan mewujudkan rahmat bagi seluruh umat manusia. Dengan demikian, pendidikan tersebut dilakukan manusia dalam rangka memperbaiki dan meningkatkan taraf hidupnya melalui proses pendidikan diharapkan manusia menjadi cerdas atau memiliki kemampuan yang biasa dikenal dengan istilah skill dalam menjalani kehidupannya.

Baca Juga:   Barokah Kiai dan Kisah Para Udin

Di sisi lain, peran aktif guru menjadi tantangan tersendiri khususnya ketika membicarakan kualifikasi guru di era virtual. Sadar atau tidak, urgensitas guru harus update demi kemajuan anak didik. Guru dengan segala keterbatasan strata pendidikannya “dipaksa” bersikap dinamis menghadapi perubahan maupun pergeseran zaman. Kualifikasi guru menjadi “momok” sekaligus pilihan demi kebaikan pendidikan, meskipun tidak semua ruh pendidikan terselesaikan melalui pentingnya penekananan kompetensi guru. Tetapi, kita tidak boleh pupus harapan demi keberlangsungan sistem pendidikan Indonesia lebih-lebih di lembaga pendidikan madrasah.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan