Ekoteologi dalam Islam dan Irisannya dengan Perempuan

141 kali dibaca

Penting diketahui untuk menempatkan ilmu Kalam bukan sebagai doktriner semata. Pasalnya, dalam bentangan dinamika ilmu Kalam, persoalan-persoalan kontekstual terus menjadi bahan refleksi para mutakalim. Persoalan kontekstual tersebut terus ditempa pada kontrsuksi zamannya masing-masing. Maka tak heran, jika ilmu Kalam atau Teologi berisisan dengan persoalan sekuler.

Sebut saja, Teologi Pembebasan yang merespons persoalan kemiskinan dan mengotopsi struktur kekuasaan yang condong pada satu pihak dan nirkeadilan. Di sisi lain, dalam tubuh Islam terdapat Teologi Islam Kontemporer yang juga sarat dengan nilai ideologis guna merespons problem dan tantangan modernitas (Mujiono, 2001).

Advertisements

Esensi Islam yang tertuang dalam Al-Qur`an dan Sunnah dipahami memuat perintah kepada manusia untuk memerhatikan ketertaikan harmoni antara Tuhan, Manusia, dan Alam. Hal tersebut bersesuain dengan konteks zaman sekarang dimana relasi antar ketiganya yang seyogyanya harmoni menemui titik nadir.

Alhasil, dengan fakta demikian menghasilkan beragam krisis seperti krisis spiritual, sosial dan lingkungan.

Kini, bukti-bukti krisis lingkungan telah dapat dilacak pada sejumlah fakta. Sebut saja deforestasi (kerusakan hutan). Pada abad ke-20 M, terhitung luas hutan mencapai 5 miliar hektare. Namun, di berbagai belahan dunia telah terjadi banyak defortasi yang disinyalir luas hutan mengurang sebesar 7 juta hektare pada tiap tahunnya (Sonny Keraf, 2020).

Bahkan, kabar dari BBC mengatakan kalau di Indonesia menyumbang lebih dari 80 persen deforestasi hingga pada tahun 2030 nanti. Hal ini tentunya akan merembet pada kebutuhan manusia lainnya seperti air bersih. Tak diragukan lagi persoalan kelangkaan air bersih pun berakar pada rusaknya hutan dan eksploitasi gunung kapur tempat menyimpan air bersih (Sonny Keraf, 2020).

Ekoteologi Bukan Ilmu Kalam

Secara mendasar, Ekoteologi berpijak pada dua terminologi, yakni Ekologi dan Teologi. Terma pertama pun ketika diotopsi secara etimologi berasal dari kata ‘oikos’ dan ‘logos’, kata pertama bermakna keseluruhan alam semesta termasuk pola dan hubungannya dengan manusia, sedangkan kata kedua dipahami sebagai suatu wacana atau ilmu. Jadi, sederhananya ekologi adalah ilmu yang memelajari perihal pola dan hubungan manusia dengan alam semesta.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan