Dua Sisi

503 kali dibaca

Ruangan luas dengan meja besar di tengah itu terasa menegangkan. Pendingin ruangan tak membuat peluh di dahi menjadi surut.

“Ah, sialan! Kenapa aku kalah lagi?”

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Suasana malam yang gerah itu semakin menyebalkan.

“Ha-ha-ha, kau memang penjudi amatiran Satrio! Uangmu tiga juta dua ratus aku ambil.”

“Terserah kau, bodoh! Ambil saja.”

Pemuda yang kalah judi itu adalah Satrio, putra dari seseorang yang cukup terpandang di desanya. Dia punya dua kepribadian sekaligus, tapi orang-orang di desanya hanya mengenal sifat baiknya. Mereka tidak tahu-menahu soal sifat buruk Satrio; bahwa dia adalah pemabuk dan penjudi. Bahkan orang tuanya saja tak tahu soal itu.

Soal merahasiakan borok memang keahliannya. Biarlah dia buruk di matanya sendiri, tapi jangan di mata orang lain, begitu dia pernah bilang. Dan kekalahan-demi kekalahannya dalam berjudi beberapa hari ini membuatnya merasa jengkel.

“Ah, kenapa aku selalu kalah?”

“Sabar Satrio, namanya juga permainan judi, pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Nah, daripada mengeluh terus seperti itu, mending kamu minum bersamaku,” Bima menggodanya. Pemuda berbadang bongsor itu kemudian mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

“Tumben sekali kamu nraktir, biasanya aku terus, Bim. Tapi bukan alkohol murahan, kan?” tanya Satrio.

“Tentu saja bukan, buat apa kita minum alkohol murahan? Hari ini pelangganku cukup banyak, jadi hari ini aku bawa whiskey. Kau pasti suka!”

“Ha-ha-ha… kau memang sialan, mentang-mentang banyak uang, berlagak sekali kamu!” Satrio berseru.

Di situ juga sudah ada Dimas. Dia adalah kurir narkoba (tapi ini rahasia). Entah dia menggunakan ilmu apa agar bisa lolos dari pemeriksaan saat dia melancarkan aksinya. Seperti Bima, Dimas ternyata juga membawa rezeki.

“Hei Satrio, kau mau sesuatu yang lebih spesial?” tanya Dimas.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan