Dilema Santri Calon Mahasiswi Al Azhar

3.379 kali dibaca

Selangkah lagi mimpi Rafikah bakal terwujud. Santriwati berprestasi asal Nagari Kapa, Kecamatan Luhak Nan Duo, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatra Barat, ini termasuk salah seorang yang dinyatakan lulus untuk kuliah ke Universitas Al Azhar di Mesir.

Desember 2020 nanti, Rafikah sudah harus berangkat ke Mesir untuk belajar di universitas tertua di dunia tersebut. Namun apa daya, ia hanya anak seorang petani miskin dengan penghasilan pas-pasan, yang menjadikannya nyaris mustahil untuk berangkat ke negeri Firaun tersebut tanpa adanya keajaiban.

Advertisements

Rafikah, yang memang sudah lama memendam impian untuk menjadi mahasiswi Universitas Al Azhar, pada 10 Juni sampai 12 Juni 2020 mengikuti seleksi masuk Universitas Al Azhar melalui program Pusat Studi Islam dan Bahasa Arab (PUSIBA). Seleksi ini diikuti lebih dari 1.000 orang peserta se-Indonesia.

Baca juga:   Dinar, Perjuangan Santri di Negeri Beruang Merah

Rafikah dinyatakan lulus. Maklum, Rafikah tergolong santriwati cemerlang. Ia lulusan terbaik Pondok Pesantren Arabi Darul Yamani Pisang Hutan yang telah diwisuda tahun 2020 ini. Selama enam tahun nyantri di pondok, Rafikah selalu mendapatkan juara 1 dan juara umum. Selain itu, ia juga menorehkan sejumlah prestasi gemilangnya, seperti Juara 3 lomba baca kitab kuning se Kabupaten Pasaman Barat pada 2017. Kemudian, juara lomba duta hafiz se-Sumatera Barat tahun 2018. Saat ini, Rafikah adalah hafiz 10 juz Al-Quran serta masih banyak prestasi lainnya yang pernah diukirnya.

Berbekal prestasi itulah, Rafikah ingin mewujudkan impiannya untuk bisa belajar ke Mesir dengan mengikuti seleksi masuk Universitas Al Azhar. Tentu saja ia girang bukan kepalang begitu mengetahui namanya termasuk salah satu santri yang dinyatakan lulus masuk universitas bergensi itu.

Baca juga:   Santri Jawa Timur Jadi Imam Besar Masjid di Uni Emerat Arab

Hanya, meski tinggal selangkah lagi, belum pasti Rafikah bisa mewujudkan impiannya itu. Tersebab, ia anak keluarga miskin yang orangtuanya tak bisa menyiapkan perbekalan untuk memberangkatkannya ke Mesir.

“Orangtua saya hanya seorang petani pepaya dengan penghasilan pas-pasan. Kami ada orang bersaudara yang masih dalam tanggungan orang tua,” kata Rafikah kepawa wartawan beberapa waktu lalu. Ia sadar berasal dari keluarga tak berada, namun ia tetap memiliki tekad yang kuat.

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan