Di Bawah Pohon Beringin

Sudah tiga hari Sanusi sekarat di pembaringan. Semua temannya sepakat jika Sanusi segera diantarkan pulang agar dirawat orang tuanya. Tetapi ia menolak, dengan alasan, ia ingin mati dalam keadaan mencari ilmu.

Namun, nyatanya, Sanusi sehat kembali setelah beberapa hari mengalami hal yang aneh. Ia merasa di dalam alam bawah sadarnya seperti berada di ruang tanpa warna, kecuali putih seperti cahaya yang menghampar di sudut-sudut ruang tersebut. Nyawanya seperti ditarik ulur —

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

penuh perjuangan.

Ia kembali menyapu halaman pesantren dan menatakan sandal Kiai Suaib.

Setiap hari, ia ditugaskan untuk menimba air di sumur untuk mengisi jamban, pagi dan sore. Selanjutnya, ia menyapu surau yang biasa digunakan untuk tempat mengaji para santri.

Baca Juga:   LAILAATUL QADAR

Pengabdiannya tak perlu diragukan lagi. Ia tulus mengerjakan semua itu tanpa dibayar. Menurutnya, mengerjakan semua itu sudah menjadi kebahagiaan untuknya. Setiap daun yang jatuh di halaman pesantren, ia sapu sambil membaca selawat.

Halaman pesantren tidak begitu luas. Di depan surau terdapat pohon beringin yang begitu besar dan rindang. Ada kolam kecil di sebelahnya. Kediaman Kiai Suaib tak jauh dari tempat itu, hanya belasan meter dari kolam yang dihuni oleh beberapa ikan. Di sana ada satu rumah panggung yang digunakan santrinya untuk tidur.

Setiap hari, Sanusi membersihkan surau itu sekaligus menyapu halamannya yang setiap harinya dipenuhi oleh daun-daun kering. Daun-daun menumpuk berserakan.

Baca Juga:   Menyelamatkan Nenek

Pohon beringin itu begitu rindang. Cabangnya lebat. Setiap orang yang berada bawahnya akan merasakan semilir angin yang begitu sejuk.

Biasanya para jemaah di surau itu akan duduk sambil mengobrol di tempat itu. Mereka hanya berempat, berumur senja. Mereka hanya menunggu giliran kematian, tidak berharap apa pun kecuali ampunan dan kematian yang baik.

Tinggalkan Balasan