MAHABBAH
Ibu,
Jika aku bisa memutar waktu
ingin kuakhiri detaknya di pangkuanmu.
Lalu aku tumpahkan selaksa cerita
tentang purnama yang sembunyi di balik awan
tentang mawar yang tumbuh subur di taman hati
tentang laut yang menenggelamkan dalam birunya
tentang angin yang mengoyak rinduku
tentang bara cinta yang membakarku
hingga luluh lantak.
Lalu engkau, Ibu
tersenyum dan tertawa
melihatku terkapar di simpang jalan
September 2021.
LAKSANA MUSA DAN HIDIR
Kau cumbui aku
dalam sebuah ruang tak bertepi
kau debati aku
dalam gemuruh sunyi
hingga mengempasku
di tepian pantai entah di mana.
Laksana Musa dan Khidir
yang lebur di antara dua samudra
meski akhirnya Musa memilih pergi
dengan seribu langkah kekalahan
September 2021.
DALAM PELUKAN MALAM
Gugusan gemintang mengintipku
dengan senyum terindah
Purnama mencium basah wajahku
dingin mendekap yang tersembunyi
di balik kain putih panjang mewangi
Sungguh aku menikmati tatapan-Nya
yang seolah mengusaiku
hingga celah terdalam
Engkau memesraiku
hingga aku tenggelam dalam kubang air mata
kenikmatan yang memabukkan.
Wahai yang lebih dekat dengan urat nadi
temani aku selalu
hingga tak kudengar lagi teka-teki
yang kerap menyiksa diri
dengan selaksa cerita tak berkesudahan
Oktober 2021.
Sang penyair yang punya talenta. Selamat, Neng, semoga kita selalu diberi waktu dan kuasa untuk berkarya (yang nafi’, tentunya)!
Amin…terima kasih apresiasinya. Masih belajar ini gus!