Chairil dan Kepeloporannya dalam Berpuisi

618 kali dibaca

Tanggal 26 Juli merupakan hari kelahiran Chairil Anwar, penyair Angkatan 45 yang tak hanya menjadi ikon perpuisian Indonesia, namun juga sebagai pendobrak perpuisian Tanah Air. Karena itu, meskipun meninggal dalam usia muda (26 tahun), tetapi karya puisi yang diciptakan Chairil Anwar mampu mewarnai peradaban perpuisian. Karena itu, kelahirannya selalu penting untuk dikenang.

Chairil Anwar lahir sebagai penyair dengan warna tersendiri. Dari Chairil kemudian lahir warna puisi modern, puisi bebas yang memiliki karakter berbeda dengan puisi-puisi sebelumnya. Itulah sebabnya, kemudian Chairil Anwar terkenal dengan pelopor puisi modern.

Advertisements

Sebelum datangnya puisi-puisi Chairil Anwar (meninggal 28 April 1949), formulasi puisi dibangun atas batasan-batasan yang kaku dan rigid. Seperti aturan jumlah baris, kesesuaian fonem rima dan irama puisi, serta aturan-aturan lainnya. Pantun, syair, karmina, gurindam, dan lain sebagainya adalah model puisi lama yang dibangun atas aturan yang cukup ketat. Kemudian dengan keberaniannya, Chairil Anwar mencoba membuat versi baru dengan kebebasan dan modernisnya. Ternyata, model puisi Chairil Anwar mendapat tempat apresiatif tersendiri di hati para pembacanya.

Baca juga:   KH Muhammad Nur (2): Selamat dari Kepungan Belanda

Di dalam sebuah buku yang berjudul Chairil Anwar Sang Penyair Legendaris, Neni Suhaeni mengatakan bahwa Chairil Anwar lazim disebut sebagai pelopor Angkatan 45 dalam sastra Indonesia, (hal. 35). Chairil Anwar juga dinobatkan oleh masyarakat sastra tanah air sebagai pelopor puisi modern. Tak hanya dapat dibaca dalam Bahasa Indonesia, karya puisi Chairil Anwar juga diterjemahkan ke dalam bahasa asing, seperti Inggris, Jerman, dan lain sebagainya. Hal ini membuktikan bahwa kepenyairan Chairil Anwar sudah diakui dunia.

Baca juga:   Berakit-rakit ke Hulu, Menjadi Ulama Kemudian

Aku dan Binatang Jalang

Salah satu puisi Chairil Anwar yang melegenda adalah berjudul Aku. Sebuah puisi keakuan yang dicipta untuk kebebasan dan kemerdekaan. Aku ini binatang jalang/Dari kumpulannya terbuang/, kalimat ini diapresiasi sebagai bentuk kebebasan dalam segala aspek kehidupan. Karena puisi ini diciptakan pada masa kolonial, maka sangat niscaya dimaksudkan sebagai sebuah kemerdekaan bagi bangsa dan negara.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan