Bila Tuhan Tak Berbagi Lokasi

Ditilik dari sampul saja, buku ini sudah menyimpan setandan keunikan dan segepok hal menarik. Benar-benar menyiratkan sesuatu yang berbeda. Coba kita cermati! Silakan, pandangi lekat-lekat sampul buku ini!

Pertama, dari tulisan “Kumpulan Cerpen Main-Main”. Pikiran kita diajak bermain-main di seputar kata main-main. Bagaimana bentuk dan lekuk wajah makhluk yang bernama Cerpen Main-Main? Apakah berasal dari kalimat yang dipungut asal-asalan? Ataukah ditulis secara sembarangan sesuka hati?

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Kedua, penulis yang bernama Embah Nyutz. Kita digiring ke sosok laki-laki tua keriput yang biasa dipanggil kakek atau embah. Apakah benar buku ini ditulis oleh kakek-kakek berusia senja, lalu bagaimana hasil tulisannya? Apakah sesegar penulis-penulis muda yang tentunya semuda pemikirannya? Atau apakah hanya sekadar catutan nama pena? Lagi-lagi kita dibuai penasaran.

Baca Juga:   Kemenangan Taliban dari Perspektif Indonesia

Ketiga, judul Gusti Mboten Shareloc. Kita digelitik dari frasa judul yang tertera. Gusti Mboten Shareloc diambil dari bahasa Jawa yang berarti Gusti (Allah) tidak berbagi atau memberi tahu titik lokasi terkini. Sebuah judul yang ganjil. Kian tidak sabar ingin cepat-cepat tahu sejelas-jelasnya.

Keempat, bubuhan kata “Beberapa Cerita Tidak Jelas Lainnya”. Apa yang dimaksud dari kata tidak jelas? Aliran, gaya bertutur, proses kreatif, ataukah isi ceritanya? Kita semakin bertanya-tanya, dan semakin tidak jelas jika kita tidak berupaya mencari tahu kejelasannya. Jadi, dari sampul saja, sudah ditemukan empat keunikan yang memeram perkara ganjil untuk segera dikulik. Lalu, bagaimana dengan isinya? Rasa penasaran semakin mencuat dan menggebu.

Baca Juga:   Ketika Anak-anak Berkarya

Edi AH Iyubenu selaku pemilik Penerbit Diva Press dan pengamat masalah-masalah Embah Nyutz mengomentari bahwa cerita-cerita yang terhimpun dalam buku ini adalah cerpen-cerpen beraliran “sastra embuh”. Jika candaan-candaan sastrawi Jokpin telah sampai pada derajat “jaminan”, maka candaan-candaan sastrawi Embah Nyutz ini kiranya sangat tepat didudukkan pada derajat “wallahu a’lam” saja.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan