Bila Kiai Arwani Kecopetan

2,770 kali dibaca

KH Arwani Amin dari Kudus, Jawa Tengah, adalah seorang kiai yang terkenal akan hafalan Al-Qur’annya. Pesantren yang diasuhnya “Yanbu’ al-Qur’an” di Kudus menjadi salah satu kiblat para hafiz-hafizah tak hanya di Jawa Tengah, tapi Indonesia.

Suatu hari ketika bepergian, di saat beliau turun dari bus di terminal Terboyo Semarang, Kiai Arwani kecopetan. Entah sudah tahu atau pura-pura tidak tahu, Kiai Arwani malah tidak peduli jika dirinya baru saja kecopetan. Para santri yang mendampinginya seketika itu pula lari mengejar pencopetnya. Tapi sayang pencopetnya terlalu lincah berlari dan menghilang dan gagal tertangkap.

Advertisements

Kiai Arwani terlihat tidak peduli dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa, tenang-tenang saja, dan tetap sibuk dengan zikirnya. Sampai-sampai, santrinya pun harus memberi tahu bahwa sang kiai baru saja kehilangan dompet.

“ Kiai, njenengan baru saja kecopetan!” kata santrinya memberi tahu.

“Oh, ya ?” jawab Kiai Arwani santai.

“Benar, Kiai, tapi kami gagal menangkapnya! Keterlaluan betul pencopet itu.”

“Alhamdulillah…. Sudahlah, kalian tidak usah ribut-ribut. Saya bersyukur, yang dicopet itu saya.”

“Apa maksudnya Kiai ?”

“Syukur… syukur… Alhamdulillah. Karena saya yang dicopet, bukan saya yang menjadi pencopetnya!”

“Kok bisa begitu kiai?”

“Sekarang apa jawaban kalian jika aku tanya, lebih baik mana menjadi orang yang dicopet atau menjadi tukang copetnya?”

Jawaban Kiai Arwani sungguh tak terbantahkan dan masuk akal. Para santri yang menyertai beliau pada geleng-geleng kepala tanda paham dan takjub.

Sifat Kiai Arwani ini mengindentifikasikan akan kezuhudan serta kerelaan beliau atas semua ketetapan Allah SWT. Sebenarnya, jawaban Kiai Arwani ini mirip dengan ungkapan Sayyidina Umar Ra, perihal datangnya suatu musibah.

Sayyidina Umar Ra berkata, “Tidak datang padaku suatu musibah kecuali di situ aku melihatnya ada empat nikmat Allah yang diberikan kepadaku. Yaitu, ketika itu tidak menyangkut agamaku, tidak menghalangiku mendapat rida-Nya, ketika yang datang itu tidak musibah yang lebih besar, dan ketika aku bisa berharap pahala atas musibah itu.” (Haqoiq an at-Tasawwuf)

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan