Bahasa Menunjukkan Siapa Kita

Dr Komaruddin Hidayat dalam bukunya Memahami Bahasa Agama (Sebuah Kajian Hermeneutika), mengatakan bahwa kualitas manusia ditentukan dengan kualitas bahasa (tepat, benar, dan sistematis) yang dimilikinya. Secara eksplisit dapat dipahami bahwa jika kita ingin menjadi manusia yang berkualitas, maka cara berbahasa kita harus tepat, benar, dan sistematis. Artinya, peran bahasa dalam eksistensinya sangat urgen terhadap perkembangan kepribadian manusia.

Bahasa dalam pengaplikasiannya dapat baik atau buruk tergantung dari kondisi emosionalitas yang dialami oleh seseorang. Sebagaimana dijelaskan Dr Komaruddin Hidayat, baik atau buruknya bahasa seseorang ditentukan oleh kondisi emosionalitas atau kepribadian atau perasaan seseorang. Ketika emosionalitas seseorang sedang baik, maka baik pula bahasanya. Begitu juga jikalau emosionalitas seseorang sedang buruk atau terjadi yang tidak mengenakkan jiwanya, maka akan buruk juga bahasanya. Antara bahasa dan emosionalitas memiliki keterkaitan dalam menentukan baik atau buruknya bahasa seseorang.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Melakukan kegiatan berbahasa ternyata tidak semudah yang kita asumsikan seperti mengeluarkan bahasa atau kalimat kepada seseorang secara spontanitas atau ceplas-ceplos adanya. Karena implikasinya adalah bahasa yang kita keluarkan tidak dimengerti dan proses komunikasi yang kita lakukan menjadi sulit terjadi dan amburadul.

Baca Juga:   Melawan Ekstremisme Islam di Media Sosial

Hal yang diperlukan dalam kegiatan berbahasa supaya bahasa yang kita hasilkan baik dan benar dan dapat menjadikan diri kita berkualitas adalah emosionalitas, memiliki gambaran akan kata tersebut, dan pemahaman kita tentag arti atau definisi kata tersebut. Ketiga hal tersbut yang harus dipahami dan dimengerti oleh setiap manusia supaya peradaban yang berkualitas dapat kembali terbangun.

Baca Juga:   “Smart Santri”, Ngaji Hybrid ala Banyuwangi

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Wittgesnten bahwa “Die Grenzer meiner die grenzen meiner Welt. Jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia, artinya “Batas bahasaku merupakan ambang batas duniaku.” Sehingga hal ini sangat terang sekali posisi pentingnya bahasa dalam kehidupan manusia dalam membangun peradaban. Sebab dari itu pula manusia merupakan makhluk istimewa dari makhluk lain dengan keistimewaan akal yang dimilikinya.

Tinggalkan Balasan