Arca Parwati dan Nilai Tasammuh NU Sumawe

1,345 kali dibaca

“Cinta adalah kekuatan terkuat di dalam kehidupan,” begitu pesan Mahatma Gandhi yang tentunya memberikan gambaran bahwa kehidupan ini akan menjadi lebih indah, adem, ayem, tentrem kalau dibarengi dengan cinta.

Pesan Nabi terkait cinta dan keindahan adalah Tuhan itu Maha Indah, dan menyukai sesuatu yang indah. Begitu juga multikultur dan kemajemukan yang ada di dalam kehidupan ini. Keberagaman ini tidak lepas dari anugerah-Nya, untuk saling kenal dan saling hormat satu dengan lainnya.

Advertisements

Gus Dur menjelaskan bahwa “Peran agama sesungguhnya membuat orang sadar akan fakta bahwa dirinya adalah bagian dari umat manusia dan alam semesta.” Di mana hal ini tentu berkaitan dengan keragaman agama, suku, budaya dan bangsa. Terlebih di negara Pancasila ini.

Artinya, kehidupan yang multikultur seyogyanya menjadi bagian dari spirit kehidupan beragama dalam rangka menjaga semangat kemanusiaan antara satu dengan lainnya. Seperti halnya ajaran tasammuh dalam konsep aswaja manhaj al-diniyah wal fikr. Karena dalam menentukan cara berpikir, perlu adanya proses empiris antara ajaran dan fakta sosial. Agama sebagai agemaning urip, sebagai proses syariat keimanan seseorang, sedangkan manhaj al-fikr atau metode berpikir adalah proses bagaimana mengolah cara, sudut dan jarak pandang dalam melihat kondisi sosial kemanusiaan.

Hal ini penulis temui saat nderek nimbrung di Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Sumbermanjing Wetan Malang, Jawa Timur. Saya melihat bahwa MWC NU Sumbermanjing memiliki keunikan secara tata letak, di mana letaknya tepat di pojok pertigaan jalan menuju Pantai Sendang Biru dan Desa Klepu. Sehingga layak, jika MWC NU Sumbermanjing atau dikenal dengan Akronim “Sumawe” itu menjadi tampat jujugan.

Di halaman kantor yang luas terdapat satu taman yang dipenuhi dengan bunga dan tanaman hias lainnya. Namun ada yang tak biasa di sana: arca seorang wanita yang dihadapkan ke timur, menghadap kantor sekretariat MWC NU. Arca tersebut masih dalam tahap konfirmasi kepada Prof Dwi Cahyono, sejarawan dan arkeolog. Saya mencoba menghubungi beliau via telepon dan memberitahukan terkait arca tersebut. Setelah bercerita panjang lebar, beliau mengatakan bahwa arca itu kemungkinan arca Dewi Parwati.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan