konflik agama

Agama Menjadi Sumber Konflik Zaman Modern?

569 kali dibaca

Manusia selalu terjebak pada intensitas konflik yang disebabkan karena faktor internal dan eksternal. Konflik yang disumbang dari adanya perbedaan kerap menular ke bidang lain seperti sosial, politik, budaya, hingga agama. Kurangnya pemahaman mengenai manajemen konflik yang pada akhirnya berimbas pada kekerasan dan peperangan.

Hingga kini konflik masih dipandang sebagai perilaku yang menyebabkan dampak negatif. Konflik yang menjurus pada kekerasan (anarkisme) ataupun kerusakan akan berdampak pada masalah sosial maupun lingkungan. Namun konflik bisa menyebabkan terjadinya perubahan sosial ke arah yang lebih baik. Memperbaiki nilai dan norma di masyarakat yang dianggap menyimpang dari konsensus sosial di masyarakat.

Advertisements

Di mata dunia internasional, Indonesia dinilai sebagai negara yang dianggap berhasil mengatasi konflik di dalamnya. Sebagai negara plural dan multikultural, tentu Indonesia riskan terjadi konflik, apalagi fakta bahwa masyarakat memiliki sikap etnosentrisme atau sukuisme dengan nuansa SARA. Selain itu fakta beragamnya keyakinan dan agama yang tersebar kerap menjadi alasan terjadinya konflik yang mengarah kepada sikap anarkisme di berbagai daerah.

Baca juga:   Dunia Santri Membangun Semangat Literasi Kaum Santri

Demikian yang menjadikan Indonesia dianggap sebagai negara yang rawan konflik. Permainan isu dan adu domba antar kelompok gampang memicu konfrontasi verbal maupun non-verbal. Ditambah kurang cakapnya ilmu pengetahuan yang membuat sebagian masyarakat gampang dipengaruhi untuk menciptakan konflik yang lebih besar di tengah masyarakat.

Diperlukan prinsip moderat dan toleran untuk mengatasi problematika yang timbul di masyarakat. Bukan hanya melindungi yang lemah atau yang salah, tapi harus bisa menjadi penengah untuk jembatan menuju persatuan. Prinsip moderat juga harus bisa memilah dan menganalisis narasi konflik agar tidak terjebak pada isu yang dimainkan untuk semakin memperkeruh keadaan.

Baca juga:   Reorientasi Islam (1)

Era postmodern memaksa setiap manusia menerima konsekuensi keterbukaan informasi, membuat masyarakat cenderung berpikir kritis terhadap agamanya sendiri. Di dunia barat, banyak gerakan masyarakat yang mulai mempopulerkan spiritualitas sebagai jalan perlawanan dari “institusi agama”. Para agamawan khawatir bahwa jalan spiritualitas akan mengancam agama-agama formal di dunia.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan