Absurditas Agama dan Logika Kemanusiaan

446 kali dibaca

Viral dan menjadi polemik yang melahirkan kegaduhan di media sosial dan pemberitaan, sebuah video yang memperlihatkan seseorang menendang dan menumpahkan sesajen di area Gunung Semeru. Seseorang yang masih belum diketahui identitasnya itu melakukan persikusi agama atau keyakinan seseorang di atas keyakinannya sendiri. Artinya, sebuah pemaksaan sekaligus pemerkosaan terhadap sebuah pilihan keyakinan orang lain.

Diketahui sebelumnya, beredar sebuah video yang menampilkan aksi seorang pria menendang sesajen di kawasan Gunung Semeru viral di media sosial pada Sabtu, 8 Januari 2022. Pria berjenggot, berpeci hitam, dan memakai rompi melakukan perusakan sambil mengatakan bahwa hal itu yang mengundang murka Allah.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

“Ini yang membuat murka Allah. Jarang sekali disadari, bahwa inilah yang justru mengundang murka Allah (sesajen), hingga Allah menurunkan adzabnya,” kata pria itu sebagaimana dilansir dari pikiran-rakyat.com.

Terkait dengan kasus tersebut, Alissa Wahid, putri dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), menyayangkan terjadinya penghinaan dan perusakan sesajen tersebut. “Meyakini bahwa sesajen tidak boleh, monggo saja. Tapi memaksakan itu kepada yang meyakininya, itu yang tidak boleh,” kata Alissa Wahid. “Repot memang kalau ketemu yang model begini. Susah banget memahami bahwa dunia bukan milik kelompoknya saja,” ujar Alissa Wahid melanjutkan seperti dilansir Pikiran-Rakyat.com dari Twitter @AlissaWahid.

Hakikat beragama (Islam) adalah sebagaimana ajaran Rasulullah saw dan pesan yang disampaikan Al-Quran, bahwa setiap perbuatan harus bermuatan rahmatan lil’alamin, yaitu kasih sayang untuk semesta alam. Jika ini yang dijadikan pegangan, maka tidak akan ada perusakan dan penghinaan terhadap kepercayaan orang lain sebagimana terjadi perusakan terhadap sesajen yang ada di kawasan Gunung Semeru.

Absurditas Beragama

Setiap agama mengajarkan kebaikan meskipun tidak semuanya mendedikasikan kebenaran. Pada tataran kebenaran tentu saja memiliki relatifitas personal. Setiap orang memiliki hak untuk mengatakan bahwa agamanya benar sekaligus baik. Argumentasi terhadap kebenaran dan kebaikan pun akan beragam dan tidak sama. Kecenderungan terhadap sebuah agama merupakan hak asasi setiap orang. Dalam bahasa Al-Quran, “La ikraha fiddin, tidak ada paksaan di dalam agama,” (QS. Al-Baqarah: 256).

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan