168 Jam Pertama di Pondok

Masih di tempat yang sama seminggu yang lalu ketika pertama kali aku memutuskan masuk pondok. Ketika itu aku duduk di depan poskestren menunggu petugas penerimaan santri baru untuk menunjukkan kamar dan lemari bagi santri baru.

Namun, sama tidaklah selalu sama. Mengutip perkataan Heraklitos, yaitu panta rhei kai uden menei (semuanya mengalir dan tidak ada sesuatu pun yang tinggal tetap). Dia menganalogikannya dengan aliran sungai. Kita tidak akan turun ke aliran sungai yang sama. Sebab, air sungai yang mengalir saat ini tentu berbeda dengan air sungai yang mengalir beberapa menit kemudian.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Ya, seperti aku yang duduk di depan poskestren seminggu lalu, juga berbeda dengan sekarang. Letak barang dan orang yang berlalu lalang pun berbeda. Pun kali ini, aku bukan menunggu petugas PSB, tetapi sedang menuliskan mengenai keputusanku masuk pondok pesantren.

Baca Juga:   Ketika Santri Menjadi Peneliti

Perihal memutuskan mondok di umur 24 tahun adalah sebuah perang batin. Tuhan dan setan berperang di sana, dan medan perang mereka adalah hati manusia. Kalimat itu merupakan kutipan dari Fyodor Dovtoesky, seorang sastrawan besar Rusia.

Memang benar begitu adanya bagiku. Di paro usia menyentuh silver age, seperti orang-orang lain sebayaku menghadapi yang quarter life crisis, aku pun merasakannya. Namun, sedikit berbeda dengan mereka yang seumuranku itu. Ketika pemuda-pemudi di luar sana masih mengerjakan tugas akhir kuliah atau bagi yang sudah selesai sedang menimbang pilihan untuk langsung bekerja atau melanjutkan studi S2, atau menjalani kehidupan baru dengan pernikahan, aku memutuskan untuk mondok. Setelah tugas akhir atau skripsiku di jenjang S1 selesai aku memutuskan untuk mondok di sebuah pondok pesantren yang tak jauh dari tempat tinggalku, yaitu Pondok Pesantren Fadlun Minallah. Hanya butuh semenit saja untuk jalan kaki menujunya.

Tinggalkan Balasan