Virus Bernama Nirakhlak

2.321 kali dibaca

Akhir-akhir ini viral tentang pembahasan akhlak. Secara etimologi akhlak merupakan bentuk jamak dari khuluk, merupakan model tingkah laku manusia yang baik maupun yang buruk. Akhlak adalah karakter dari seseorang terkait dengan suatu etika terhadap diri sendiri, orang lain, maupun hubungan dengan Tuhan. “Khairukum ahsanukum khuluqan,” sebaik-baik dari kalian, kata Nabi saw, adalah yang paling baik akhlaknya.

Konon, dalam sebuah kisah, di sebuah desa yang entah, ada seseorang yang harus meregang nyawa karena dibelati oleh orang lainnya, hanya karena berkentut di hadapannya. Tentu hal ini terkait moralitas, bahwa nilai etika di tempat tersebut berkentut sembarangan dianggap sebagai tindakan tak bermoral. Terlepas dari keabsahan kisah tersebut, di sini dapat dipetik nilai moralitas terkait etika dalam bermasyarakat. Etika sebagai pengetahuan, sedangkan moral adalah ajaran, dan akhlak merupakan tingkah laku baik dan buruk seseorang.

Advertisements

Akhlak merupakan sebuah karakter yang didasari oleh al-Quran dan Hadits. Kaidah syari yang dalam Islam disebut sebagai pokok ajaran Rasulullah saw. “Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlak sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemualiaan akhlak.”

Hadits Nabi ini jelas tekait dengan karakter seseorang dalam suatu pergaulan, baik yang terkait dengan diri sendiri, orang lain, dan maupun akhlak terhadap Allah. Sehingga, nilai kebaikan itu bersifat holistik, menyangkut kepada setiap aspek kehidupan.

Jika virus Covid-19 menyerang fisik, maka virus nirakhlak menyerang psikis yang tidak dapat diobati secara medis. Memerlukan media khusus terkait dengan pengajaran dan tata kelola jiwa dan perasaan seseorang. Sehingga, persoalan etik ini dapat diantisipasi dan menjadi perhatian sektoral demi kehidupan yang damai dan tenteram. Akhlak adalah jembatan untuk sebuah nilai kerukunan, sehingga dengan sikap yang baik (berakhlaqul karimah) seseorang mendapatkan marwah penghormatan dari orang lainnya.

Sebuah kisah, di zaman Rasulullah, ada seorang pengemis buta yang biasa duduk menadahkan tangan di sudut kota. Tidak ada yang diucapkan oleh pengemis buta itu kecuali sumpah serapah dan hinaan terhadap Muhammad.

Baca juga:   Pandemi ini Nyata, Jangan Denial!

Ia selalu berkata, “Jangan dekati Muhammad. Dia adalah pembohong, tukang sihir, dan pecundang. Kalau kalian mendekati Muhammad, maka kalian akan terpengaruh olehnya.”

Begitulah sumpah serapah si pengemis buta setiap hari. Namun ada seseorang yang biasa datang kepadanya dan menyuapi makanan hingga pengemis buta tersebut merasa puas dan kenyang. Karena pengemis itu tidak dapat melihat, ia tidak tahu siapa orang yang begitu baik hati terhadapnya.

Hingga sampai pada suatu hari, seseorang yang biasa datang dan menyuapinya tidak ada lagi. Merasa sangat lapar, ia bingung dan mencari-cari orang tersebut. Kemudian datanglah seseorang lain dan mencoba menyuapi pengemis tersebut. Tetapi kemudian si pengemis itu marah dan menghardik orang yang baru menyuapinya.

“Engkau bukan orang yang biasa datang kepadaku, siapa Engkau?” hardik pengemis buta itu.

“Aku yang biasa datang kepadamu,” jawab orang itu mencoba meyakinkan.

“Tidak mungkin, orang yang biasa datang kepadaku itu menyuapiku dengan lembut. Dan setiap suapan yang ia berikan sangat mudah aku telan. Sedangkan, Engkau,… siapa Kau sebenarnya?”

Kemudian orang yang ternyata Abu Bakar, sahabat Nabi, itu berkata jujur kepada pengemis itu. “Benar, aku bukan yang biasa datang kepadamu. Aku adalah Abu Bakar, sahabat Nabi Muhammad. Sedangkan, orang yang biasa datang menyuapimu setiap pagi itu adalah Muhammad.”

Mendengar bahwa yang sebenarnya datang selama ini adalah Muhammad yang ia caci maki dan menghinanya, pengemis buta itu gemetar. Ternyata Muhammad adalah manusia agung yang sedikit pun tiada cela dalam dirinya. Maka kemudian, pengemis yang semula beragama Yahudi itu berikrar diri sebagai seorang muslim. Subhanallah!

Dalam kisah lainnya, seorang Arab Badui menemui Umar bin Khattab, beberapa hari sepeninggal Rasulullah, dan berkata, “Tolong ceritakan kepadaku bagaimana keindahan akhlak Rasulullah?”

Mendengar pertanyaan itu, Umar bin Khattab menangis dan tak sanggup mengungkapkan kata-kata. Umar berkata, “Datanglah Engkau kepada Bilal RA.”

Arab Badui itu pun mendatangi sahabat Bilal bin Rabah dan menanyakan hal yang sama. Bilal pun tak kuasa membendung air matanya. Beliau menangis dan memerintahkan Arab Badui itu untuk menemui Ali bin Abi Thalib. Arab Badui itu heran, mengapa kedua sahabat senior Rasulullah itu bersikap demikian.

Baca juga:   Gadis Impian

Berikutnya, Arab Badui menemui Ali bin Abi Thalib, dan mengatakan, “Ceritakan kepadaku, bagaimana keindahan akhlak Rasulullah?”

Mendengar pertanyaan tersebut, Ali bin Abi Thalib pun tidak kuat membendung air mata. Di antara isak tangis yang menyayat hati, Ali berkata kepada Arab Badui, “Coba ceritakan olehmu bagaimana keindahan dunia?”

Arab Badui itu menjawab, “Bagaimana mungkin aku menceritakan keindahan dunia yang tak terbatas ini?” Ali bin Abi Thalib pun menjawab, “Begitulah, padahal dunia ini sangat kecil menurut al-Quran, sedangkan akhlak Rasulullah begitu agung.”

Begitulah sebagian akhlak Rasulullah yang menjadikan nilai Islam begitu agung. Diterima oleh seluruh manusia karena pembawa risalah ini memiliki akhlak yang mulia, yang tidak dimiliki oleh orang lain. “Innaka la’ala khuluqin adhim, (sesungguhnya Engkau (Muhammad) memiliki akhlak yang sangat agung (mulia)).”

Virus nirakhlak telah menjangkiti kebanyakan manusia saat ini. Sengkarut perbedaan pandangan melahirkan penghinaan, caci-maki, dan saling mencela. Akhlak yang telah diajarkan melalui ungkapan dan tingkah laku Rasulullah seakan telah sirna dari benak kita masing-masing. Virus nirakhlak itu telah merasuk ke dalam jiwa kita. Sehingga kita apatis terhadap logika kebenaran dan abai terhadap keberadaan etika.

Sudah waktunya kita kembaluli kepada kemuliaan akhlak. Membangun kembali nilai-nilai etika yang bercerai-berai. Tidak boleh terjadi saling menghina, saling mencaci, dan saling menciderai jiwa kita masing-masing. Kita adalah satu kesatuan (ummatan wahidah) yang harus tetap bersama dalam keberagaman, dan beragam dalam kebersamaan. Wallahu A’lam! 

Multi-Page

Tinggalkan Balasan