Tetap Jernih di Tengah Keruhnya Media Sosial

Diakui atau tidak, akhir-akhir ini kehidupan kita memang dimanja oleh telepon pintar. Dari kisah para leluhur, dulu mereka balik ke rumah meski sudah sampai separo perjalanan yang ditempuh dengan berjalan kaki jika lupa tak membawa Al-Quran. Beda dengan kita saat ini. Ketika sedang bepergian, terasa ada yang tertinggal bila tak bersanding smartphone ā€”dan kita bisa putar balik untuk mengambilnya.

Beragam aktivitas kita dalam men-tasaruf-kan smartphone. Ada kalanya demi tuntutan pekerjaan, gaya hidup, iseng, hiburan, biar tak kalah saing dari teman, dan segudang alasan lainnya.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Disadari atau tidak, dengan hadirnya smartphone di genggaman kita, berita semakin gesit berseliweran di depan kita. Ngainum Naim dalam bukunya Menipu Setan (2015), menyatakan, era sekarang ini menjadikan manusia tidak bisa memisahkan hidupnya dari media informasi dan komunikasi. Prinsip pokoknya adalah teknologi informasi dan komunikasi (TIK) ibarat pedang bermata ganda. Ia bisa memberikan manfaat yang besar buat kehidupan kita sekaligus mencelakakan diri kita.

Baca Juga:   Transmisi Hadits dan Penanggulangan Hoax

Hal ini bermakna bahwa bermanfaat atau berbahaya bergantung kepada pemegangnya. Jika pemegangnya menggunakannya untuk tujuan positif, tentu akan banyak manfaat yang direngkuh. Namun, jika menggunakannya untuk tujuan negatif, tentu hal negatif juga yang akan diperolehnya.

Bijak Bermedia Sosial

Semua media sekarang telah hadir dalam kehidupan kita. Tentu bukan sikap bijak jika memposisikan diri untuk menolak kahadirannya. Sikap semacam ini justru membuat kita semakin terasing dari kehidupan. Akan tetapi, hanyut dan ikut arus tanpa filter juga bukan sikap hidup yang bijak. Silakan lihat, betapa banyak korban media. Hidup mereka rusak karena terpengaruh media.

Baca Juga:   Marak Seminar Poligami dan Pranikah, Bagaimana di Mata Santri

Nur Rohmad (NU Online, 03/12/2020) mengatakan, ā€œDi era medsos seperti saat ini, kita tidak hanya dituntut untuk menjaga lidah. Namun kita juga dituntut agar menjaga jempol dan jari-jari kita. Karena apa yang kita tulis dengan tangan sejatinya sama dengan apa yang kita ucapkan dengan lisan.ā€

Tinggalkan Balasan