Tentang Membaca yang Tak Pernah Mudah

647 kali dibaca

Dalam sejarah perkembangan risalah ketuhanan, Islam menjadi satu-satunya agama yang memerintahkan kepada para pemeluknya untuk membaca —meski kemudian tidak semua orang bisa membaca.

Hal itu tampak pada peristiwa yang terjadi kepada Sang Lelaki Ummy yang kelak menjadi penutup para Nabi: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib atau yang kita kenal sebagai Nabi Muhammad SAW. Perintah itu menjadi semacam kewajiban walau aktivitas membaca tidak selalu mudah, seperti pengandaian kita: mula-mula mengenal huruf abjad, menyambung dan memungutnya hingga membentuk sebuah kalimat. Dan, Abragadabra!

Advertisements

Dalam tulisan ini, saya akan tunjukkan nanti betapa membaca, secara aplikatif, tidak segampang saat kita mengucapkan “membaca”. Sebagai salah satu senjata untuk mendapatkan pengetahuan, membaca justru meniscayakan sebuah kemampuan lain dalam diri si pembaca atau kita sendiri. Tapi sebelum itu, mari simak terlebih dahulu kisah berikut ini.

* * *

Seorang anak perempuan tiba-tiba menghampiri saya dan beberapa kawan yang baru saja selesai merapikan penginapan, tempat bermalam selama melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sebuah desa di Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep.

Dia masih kelas empat atau lima SD, kira-kira. Terlihat dari gelagat dan raut mukanya yang memang masih kanak-kanak. Benar saja, anak perempuan yang kemudian kami kenal dengan panggilan Ina itu sedang duduk di bangku kelas lima Madrasah Ibtidaiyah (MI). Dia sendiri yang bercerita kepada kami.

Ina tidak sendirian. Dia menghampiri kami bersama dua teman yang juga seusia dengannya. Sebut saja namanya Nabil dan Royyan, dua bocil laki-laki yang gemar bercanda tiap hari tiap malam dan tiktokan —dua anak kecil yang lain tidak saya sebut karena jarang sekali ngobrol dan bermain dengan kami. Bukan benci. Tapi karena peran dua anak kecil itu tidak terlalu penting dalam alur cerita ini.

Sehari setelah penyerahan peserta KKN secara simbolik dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) kepada Kepala Desa, Ina menghampiri kami, dan menyampaikan keinginannya untuk belajar membaca. Raut mukanya yang polos seolah menyimpan hasrat keingintahuan yang luar biasa.

Saya sedikit terkejut. Anak seusia dia bisa-bisanya masih mau belajar membaca. Padahal, menurut dugaan siapa pun, anak usia 9-10 tahun macam dia sudah bisa, bahkan lancar dalam urusan membaca.

Sekitar tiga hari berlalu, seperti biasa, Ina mendatangi posko penginapan untuk belajar. Dia rutin datang dan belajar kepada kami dua kali sehari. Tepatnya, sehabis sekolah, kira-kira antara pukul 12:00 sampai pukul 14:00. Seandainya tidak ada jam masuk Madrasah Diniyah (MD) pada pukul 14:30, mungkin Ina akan terus belajar hingga azan Ashar berkumandang. Malam harinya, biasanya Ina akan belajar setelah shalat maghrib hingga azan Isya’. Setelah itu, dia akan kembali belajar kepada si Nabil tentang materi sekolahnya yang kabarnya sering ada PR buat Ina. Begitu seterusnya hingga lima belas hari pertama.

Dari sini, ‘ketidakbiasaan’ itu perlahan tampak ke permukaan. Mulai dari beberapa huruf abjad yang kemarin dia sangat hafal tiba-tiba lupa, hingga, beberapa kali dia menunjuk huruf, tapi tidak tahu menyebut huruf yang ditunjuk. Semacam ada kerja otak yang melemah atau lambat dalam memroses ingatan.

Jangankan membaca, huruf abjad saja masih sukar dia hafal. Apalagi, dia juga kesulitan dalam urusan membedakan huruf yang memliki bentuk yang hampir serupa, begitu menurut pengakuannya. Seperti huruf M dan W, huruf N dan Z, atau bahkan huruf V dan Y. Huruf-huruf ini, seringkali kurang benar pengucapannya, atau lebih tepat tertukar penyebutannya. Saya sendiri baru menyadari setelah beberapa hari Ina belajar kepada kami.

Setelah mencoba mencari informasi di Google, akhirnya ketemu masalahnya. Ya, disleksia (dibaca disleksi). Sebuah gangguan yang mengakibatkan kerja otak lebih lambat dari kerja otak normal saat menangkap informasi. Ina, dalam pembacaan singkat saya, kemungkinan memang mengalami gangguan ini. Salah satunya seperti tertukarnya huruf tadi. Bahkan, hal ini juga berimbas kepada tingkah lakunya, seperti…… maaf, saya belum bisa menyebutkannya di sini.

Intinya, disleksia, sekali lagi, adalah sejenis masalah gangguan pada syaraf otak, yang biasanya dikarenakan faktor gen dari orang tua sebagai penyebab terkuat seseorang mengalaminya. Tapi, ini bukan penyakit, sehingga metode penanganannya juga tidak dengan cara pengobatan, melainkan dengan pembiasaan.

Upaya efektif yang bisa dilakukan adalah dengan terus-menerus atau istiqomah belajar, sambil lalu konsultasi kepada psikolog. Dengan cara itu, kemungkinan besar daya ingat seseorang yang mengalami gangguan perlahan akan menguat dalam menangkap dan menyimpan informasi dan kembali normal. Tapi itu tidak mudah dan butuh waktu yang agak panjang.

Namun, terlepas dari segala keterbatasannya itu, saya kagum: selain, menurut teman-temannya, bertanggung jawab, semangat yang dia tunjukkan, terutama kepada saya, seolah tak pernah padam. Seorang anak kecil yang mungkin dianggap (maaf) kurang normal oleh lingkungan sekitarnya karena ketidaksamaan laku hidup keseharian. Tetapi, lagi-lagi bagi saya, dia sangat normal karena kesadaran dan atensi (perhatian) terhadap ketidaktahuan yang sedang menimpanya. Dia, disadari atau tidak, sedang mengupayakan diri agar terbebas dari segala belenggu ketidaktahuan itu.

Saya sendiri merasa dicambuk menggunakan rotan paling tebal oleh Ina. Dengan kepolosan dan kekurangan yang dimiliki itu, dia tetap tegar belajar membaca. Berusaha sekeras mungkin agar kebebalan dalam dirinya lekas sirna. Sekaligus, menjadi manusia yang tidak lagi disebut “tidak normal” dari kebanyakan teman bermainnya. Karena, membaca, sejauh ini menjadi salah satu usaha dalam menangkap pengetahuan.

Hingga KKN kami berakhir, Ina masih belajar membaca. Lumayan, daya ingatnya kepada huruf abjad kira-kira sudah 80%. Minimal, dia sudah mengenal bentuk dan penyebutan dari masing-masing huruf selama kami di sana, meski belum bisa mengeja.

Sejak saat itu, dia rutin belajar kepada mahasiswa dari kampus lain yang juga kebetulan sedang KKN di desanya. Tepat lima hari sebelum kami pamit, peserta KKN dari salah satu kampus di Sumenep datang dan mengambil alih ‘sebagian daerah kekuasaan kami’. Tidak masalah. Terpenting, mereka bisa menemani dan mau membantu Ina belajar membaca.

Inilah kekaguman kami kepada anak perempuan yang satu ini. Meski berkali-kali lupa, dia tetap mencoba menghafal semampunya. Walau dia tahu, beberapa detik berselang setelah belajar, pengetahuan itu mungkin akan sejenak hilang. Tapi itu tidak membuat dia patah semangat untuk tahu. Sebab, barangkali dia yakin, jika dengan cara belajar secara rutin saja masih belum bisa, apalagi jika jarang atau bahkan tidak sama sekali.

* * *

Pada mulanya, membaca mungkin kita pahami sebagai hobi. Kita melakukannya untuk mengisi waktu luang setiap hari. Ya, itu boleh-boleh saja, bahkan sangat perlu membiasakan diri dengan membaca. Sampai pada tahap berikutnya, bersamaan dengan perkembangan daya pikir kita, membaca, berubah menjadi sebuah kebutuhan.

Selain perintah agama, tuntutan lainnya datang dari perkembangan zaman yang juga menawarkan banyak informasi kepada kita, baik maupun buruk. Sehingga kita dituntut agar mampu memiliki sikap bijak ketika berhadapan dengan hal demikian yang tentu saja melalui pengetahuan.

Tapi, hal apa yang patut kita pikirkan selain membiasakan membaca? Itulah yang disebut dengan ‘kemampuan menangkap informasi secara tepat dari apa yang kita baca’. Sehingga, kita tidak sekadar membuka lembar demi lembar halaman buku, berpindah tempat duduk dari satu tempat ke tempat lain, dan seterusnya. Sebab, membaca mengandaikan adanya pemahaman secara utuh yang harus didapatkan demi menghindari sesat pikir dan lain-lain. Ini belum termasuk jenis buku yang cocok dibaca.

Kemampuan dalam menangkap pengetahuan semacam ini tidaklah gampang. Terkadang, seseorang perlu membaca ulang demi mendapat informasi yang akurat. Bukan sekadar membaca dari awal hingga akhir halaman, tetapi tidak paham terhadap apa yang si penulis sampaikan. Buku yang kita selesaikan mungkin sudah banyak, tapi itu belum menjamin terhadap kelimpahan pengetahuan yang kita serap.

Seorang pemain sepak bola, misalnya, tidak akan mampu melakukan umpan atau shoot saat mengeksekusi bola mati secara akurat jika hanya belajar menendang sembarang. Dia tentu sudah melakukan latihan mulai dari hal yang paling dasar seperti kaki bagian mana yang digunakan untuk menendang si kulit bundar, hingga bagaimana ia mengukur antara kekuatan sepakan dengan jarak yang hendak dijangkau. Bahkan, ketika dia sudah berhasil melakukannya, dia terus mempelajari tahapan berikutnya, yaitu ball feeling. Ini mungkin lebih rumit daripada sekadar menendang. Karena, ketepatan dan keakuratan harus sudah dibangun dan selesai sejak dari dalam hati dan pikirannya.

Begitu pula dengan aktivitas membaca. Seseorang perlu melakukan upaya lain selain hanya ‘membaca’ tadi. Yaitu, usaha memahami apa yang dibaca. Upaya memahami bacaan tidak harus selalu dengan mengulang-ulang melainkan dengan kehati-hatian —karena membaca tidak selalu untuk menghafal. Jangan terburu-buru hanya demi mengkhatamkan banyak buku.

Pengulangan bacaan perlu dan berfungsi, utamanya, pada buku-buku berseri pemikiran, seperti filsafat, ideologi, teologi, dan sejarah. Saat berhadapan dengan buku macam ini, kita dianjurkan agar membacanya lebih pelan dan lebih teliti agar konstruksi pengetahuan dalam otak kita tidak ngawur. Satu lagi: kekuatan mengingat kita diuji ketika melahap lembaran buku jenis ini.

Selain itu, informasi yang kita peroleh dari sebuah tulisan kadang masih dihadang pagar lain: ambiguitas tulisan. Tidak sedikit penulisan sebuah kalimat menyampaikan dua macam pemahaman atau lebih kepada pembaca. Antara pemahaman satu dengan yang lainnya akan berimbas kepada paragraf lain. Dalam kalimat “Bapak membaca buku sejarah sastra yang baru”, misalnya.
Membaca, sekali lagi menjadi salah satu jalan mendapat pengetahuan. Pengetahuan dapat meningkatkan kualitas hidup manusia sepanjang hidupnya. Maka, jadilah pembaca yang tak sekadar membaca.

Terakhir, ada pesan sekaligus pertanyaan tersirat dari kisah anak perempuan bernama Ina tadi kepada saya dan mungkin bagi kita semua: “Bentuk syukur macam apa yang telah kita berikan kepada Tuhan atas anugerah kemampuan membaca yang kita punya, yang tentu saja sangat istimewa?”

Multi-Page

Tinggalkan Balasan