Tebuireng, Setelah 120 Tahun…

Pesantren Perjuangan

Tebuireng kini adalah buah dari pengelaan sang pendiri, KH Hasyim Asy’ari, setelah menimba ilmu di berbagai pesantren sohor di Indonesia dan juga di Tanah Suci Mekkah. Salah satu guru KH Hasyim Asy’ari yang sering disebut adalah Kiai Kholil Bangkalan, Madura —gurunya para guru.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Sebelum kedatangan Kiai Hasyim, Tebuireng hanyalah sebuah dusun kecil yang masuk wilayah Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Jaraknya sekitar delapan kilometer di selatan kota Jombang. Tepatnya berada di tepi jalan raya Jombang-Kediri. Konon, berdasar cerita masyarakat setempat, nama Tebuireng berasal dari kata “kebo ireng” (kerbau hitam). Alkisah, suatu hari ada seorang penduduk yang kehilangan kerbau miliknya. Kerbau berkulit kuning kerbau tersebut, setelah dicari-cari, akhirnya ditemukan dalam keadaan hampir mati karena terperosok di rawa-rawa yang banyak dihuni lintah. Sekujur tubuhnya penuh lintah, sehingga kulit kerbau yang semula berwarna kuning kini berubah menjadi hitam. Peristiwa ini menyebabkan pemilik kerbau panik dan berteriak-teriak “kebo ireng! kebo ireng!” Sejak saat itu, dusun tempat ditemukannya kerbau itu dikenal dengan nama Kebo Ireng.

Baca Juga:   “Maudhu Lampoa”, Peringatan Maulid Nabi Sepanjang Hayat

Entah sejak kapan, pada perkembangan selanjutnya, ketika penduduk dusun tersebut mulai ramai, nama Kebo Ireng berubah menjadi Tebuireng. Tidak diketahui dengan pasti kapan perubahan itu terjadi; mungkin ada kaitannya dengan munculnya pabrik gula di selatan dusun tersebut. Keberadaan pabrik gula di zaman Belanda ini mendorong masyarakat untuk menanam tebu. Ada kemungkinan, karena tebu yang ditanam berwarna hitam maka dusun tersebut berubah nama menjadi Tebuireng. Namun, ada versi lain yang menyebut bahwa nama Tebuireng diambil dari nama punggawa Kerajaan Majapahit yang masuk Islam dan kemudian tinggal dan meninggal di sekitar dusun tersebut.

Tinggalkan Balasan