Santri dan Honor Menulis

770 kali dibaca

Kretivitas saya menulis sudah tumbuh sejak masih SMP. Pada saat itu, saya mendapat tugas membuat cerita. Kemudian, saya adopsi dengan buku yang saya baca berjudul Kerbau dan Tengkorak Hidup.

Cerita ini mengisahkan tentang diskresi antara satu orang yang berbadan gemuk (teman saya, sebut saja namanya Hoy), dan orang lainnya yang berperawakan kurus (juga teman saya, sebut saja namanya Rah). Keduanya berperan sebagai tokoh utama yang punya karakter berbeda, sehingga selalu menimbulkan perseteruan. Judul tulisan Kerbau dan Tengkorak Hidup sempat viral pada masanya, meski hanya terbatas di sekitar sekolah saja.

Advertisements

Selanjutnya, skill menulis saya berkembang cukup baik pada saat mondok di Pondok Pesantren Annuqayah. Saya biasa menulis di sebuah majalah dinding (mading) pesantren yang bernama Bengkel Mayang. Pada saat itu, tulisan saya yang dimuat berupa sebuah puisi. Berikutnya, saya juga pernah menjadi tim redaksi majalah Nuansa: Annuqayah dari Masa ke Masa, sebuah majalah tahunan yang biasanya terbit pada akhir sanah, kenaikan kelas, atau kelulusan yang diformat dengan kegiatan imtihan.

Soal skill kepenulisan, suatu ketika saya mengirimkan tukisan ke harian Surabaya Pos. Pada rubrik Social Concern, sebuah catatan kecil yang terdiri dari tulisan berbahasa Inggris, saya membahas tentang keberadaan burung yang sudah semakin terdesak. Pada saatnya nanti, kalau tidak diantisipasi, akan mengalami kepunahan.

Baca juga:   Evolusi Literatur Hadits dalam Keilmuan Islam

Saya menulis topik itu dalam bahasa Inggris, kemudian diberikan kepada guru saya, native spaker dari USA, Brian Hermon, untuk dikoreksi. Semula tulisan itu berjudul Oh The Birds, tapi kemudian diganti oleh guru bahasa Inggris saya menjadi Unfurtunately Birds, termasuk beberapa susunan kalimat yang kurang baik.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Baca juga:   Lomba Sendiri, Juara Sendiri

Tinggalkan Balasan