Sains dan Agama sebagai Sarana Menuju Dunia Luar

Manusia dianugerahi Allah dengan akal sebagai sarana untuk memperoleh hal-hal yang sebelumnya tidak diketahuinya. Manusia dinalurikan sebagai subjek yang seharusnya berperan dalam pencarian informasi sepanjang hidupnya. Pernyataan ini tersurat pada sebuah kalimat yang berbunyi,

أطلبوا العلم من المهد إلى اللحد

Advertisements
Cak Tarno

Artinya: “Tuntutlah ilmu dari buaian (ibu) hingga liang lahat (kematian)

Terminologi yang sering dipakai manusia dalam melabeli informasi atau suatu wawasan tertentu pada umumnya adalah “ilmu” dan “pengetahuan”. Makna harfiahnya (KBBI), “ilmu” diartikan sebagai pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tententu di bidang pengetahuan itu. Sedangkan, “pengetahuan” itu sendiri adalah gabungan berbagai pengetahuan yang disusun secara logis dan bersistem dengan memperhitungkan sebab dan akibat.

Baca Juga:   Pesantren dan Pilkada

Apabila dirunut, kedua terminologi tersebut dari sudut pandang tekstualnya, akan memunculkan bias dan ambiguitas yang mengakar dalam benak kita. Bagaimana konsep tentang “ilmu” dan “pengetahuan” itu sendiri? Bagaimana respons analisa pada pernyataan yang menyandingkan “ilmu” dan “pengetahuan” menjadi “ilmu pengetahuan”? Apa yang bisa dikaitkan antara keilmuan dan agama? Dan masih banyak persoalan yang lain.

Budayawan Emha Ainun Nadjib, atau yang kita kenal dengan Cak Nun, pada sebuah kesempatan dengan putranya, Sabrang Noe, mencoba membedah realitas makna dari kedua term di atas. Menurutnya, pengetahuan adalah sebuah data yang diperoleh manusia dalam pengembaraannya selama hidup. Sedangkan, ilmu adalah alat atau medium yang digunakan manusia untuk melihat implementasi tujuan yang ada di depan.

Baca Juga:   Santri dan Cinta Tanah Air

Pada momentum yang lebih serius, kolaborasi antara pelbagai pengetahuan (data) yang telah diasumsikan oleh manusia sebagai suatu yang haq, akan menjadi sebuah peneguhan yang independen terhadap sesuatu hal. Apabila proses ini berhasil, maka lahirlah ilmu yang telah distrukturisasi secara tertib dan dapat digunakan lebih lanjut.

Namun, kita menyadari bahwa ada segmentasi yang membedakan makna haq dalam bahasa Arab, dengan “hak” dalam bahasa Indonesia. Haq dalam bahasa Arab cenderung memvalidasi suatu perkara bahwa di dalamnya mengandung kebenaran. Sedangkan, “hak” dalam bahasa Indonesia, maupun “rights” dalam bahasa Inggris, dimaknai sebagai suatu kepemilikan dan kewenangan yang dimiliki masing-masing orang.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan