Pesantren dan Politik Mengusir Penjajah

303 kali dibaca

Pada Rabu 17 Agustus 2022 ini, kita akan merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia. Benar kata Muhammad Iqbal dalam tulisannya, berbagai prosesinya pun sudah mulai dilakukan. Berbagai kemeriahan juga mulai terlihat di mana-mana. Lomba tingkat desa, kecamatan, kabupaten, bahkan tingkat nasional pun ikut menjadi simbol dalam menyambut dirgahayu Republik Indonesia.

Sepanjang jalan raya menuju kota, terlihat banyak sekali bendera merah putih terpasang gagah, di depan kantor kecamatan, depan gapura, hingga di setiap depan rumah warga sekalipun. Hal ini saya kira tidak lain sebagai wujud dari nasionalisme warga Indonesia itu sendiri.

Advertisements

Dan di balik hari yang ditunggu-tunggu ini, ada semacam nostalgia sejarah yang tidak boleh kita lupakan. Sejarah di mana para pahlawan berjuang/berjihad mati-matian melawan para penjajah. Semangat raga menjadi bekal, dan nyawa menjadi taruhan. Dosa besar rasanya jika kita hanya berhenti di taraf memeriahkan kemerdekaannya saja, dan lebih-lebih melupakan (atau memang tidak tahu sama sekali) tentang perjalanan panjang para pahlawan dahulu kala.

Baca juga:   Pendidikan di Dunia Metaverse, Kemajuan atau Tipuan?

Para pahlawan, berangkat dari cerita-cerita nenek moyang kita yang masih ada, kebanyakan datang dari kalangan santri. Hampir dipastikan 80 persen perlawanan terhadap penjajah lahir dari kalangan santri, terlebih kiai. Kiai sebagai sosok panutan, berhasil menumbuhkan jiwa nasionalisme santri dan menjadi pemeran utama dalam menyusun strategi melawan penjajah.

Dalam persepektif sejarah perlawanan melawan penjajah (Belanda) bermula pada Perjanjian Giyanti 1755. Perjanjian ini didasarkan karena kekhawatiran Belanda terhadap eksistensi pesantren kala itu. Akibatnya, Belanda mulai membatasi segala kegiatan pendidikan dan perkembangan yang berkaitan dengan pesantren.

Baca juga:   Spirit Ekonomi Islam Nusantara

Bahkan tidak berhenti di situ saja, aktivitas masyarakat muslim untuk menjalankan kewajiban agama juga dibatasi. Hingga pada akhirnya, rasa benci masyarakat pesantren memuncak ketika pada 1900-an Belanda menghilangkan pengajaran sistem pesantren dan mendirikan pendidikan sistem kelas seperti sekolah-sekolah sekarang ini.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan