Perempuan yang Menegosiasi Takdir

467 kali dibaca

Takdir seringkali diasosiasikan dengan ketetapan yang tak bisa diubah. Barangkali, buku yang berjudul Perempuan yang Memesan Takdir yang ditulis seorang ibu muda dengan putri cantik yang lahir dari rahimnya, W. Sanavero, ini memberikan dampak reflektif atas perjalanan hidup dulu, sekarang, dan akan datang.

Seorang perempuan, tentunya juga laki-laki, bisa berdialog dengan dirinya sendiri. Tentu, dialog dengan diri sendiri melibatkan Tuhan. Bahkan, menurut perspektif sufisme, Tuhan berdialog dengan dirinya sendiri. Bukankah Tuhan lebih dekat daripada urat nadi leher kita sendiri? Siapa yang lebih mendengar selain daripada Tuhan? Tidak ada.

Advertisements

Fenomena dalam perjalanan hidup; kebaikan-keburukan, kecewa-putus asa, bahagia-derita merupakan keniscayaan peristiwa. Siapa yang tidak menjumpai peristiwa-peristiwa semacam itu? Tidak ada. Meminjam bahasa Emha Ainun Nadjib, penulis epilog buku ini, pernah menulis pada buku lain, Surat kepada Kanjeng Nabi, “Kesempurnaan bukanlah tanpa cacat, melainkan perpaduan antara kecacatan dan ketidakcacatan.”

Pengalaman kecewa dan bahagia itulah kesempurnaan hidup. Dalam merespons dan mengelola kekecewaan itu, seseorang membutuhkan kreativitas. Barangkali, W Sanavero melalui buku ini melakukan kreativitas itu.

Seperti tulisannya dalam bab pertama, “Perempuan dan Kata-kata”. Menceritakan kekecewaan dan patah hati yang dialami seorang perempuan. Tak disebutkan siapa nama tokohnya. Bisa jadi dirinya sendiri, atau orang lain, juga mungkin sosok imajinatif. Suka-suka penulisnya. Ia menuliskan semua pengalamannya, melahirkan kata-kata. Diksinya apik dan pas; menggambarkan yang dialami, pun tak kalah penting memberi nyawa pikiran pembaca melayangkan imajinasinya. Ini pengalaman saya membaca bab pertama.

Kelihaiannya semakin menyembul pada bab berjudul “Cerita Bersajak”. Saat membacanya saya teliti di mana letak kesajakannya, entah pada bacaan ke berapa saya baru sadar, ternyata tiap akhir kalimat dari setiap sub judul –ada tiga sub judul, kalimat terakhir paragraf akhir berbunyi “Kau, perkenalkan, ini wajahku, wajah perempuan yang…” dengan akhir kata berbeda-beda. Di sini juga, saya tersadar bahwa saya tidak punya apa-apa, bahkan napas sekalipun, persisnya tiba di kalimat ini; “Sejak itu aku meminjam napasmu, atau kau yang meminjamkannya untukku. Ah, persetan dengan semua itu, aku ingin tenggelam dalam napasmu.” Kesadaran transenden muncul, napasku pinjaman Tuhan.

Baca juga:   Andai Tak Ada Madrasah...

Cerita paling saya suka berjudul “Kopi Perempuan”. Sebagai seorang yang terus memproduksi bayangan, ketika melihat warung kopi dan jendela yang darinya pandangan bisa menembus jalan raya, menginginkan bisa menulis semua kejadian, atau paling minim, menangkap satu peristiwa menarik dan bisa menuliskannya jadi cerita yang menarik pula. W Sanavero telah mengobati keinginan itu selama, entah minggu, bulan atau tahun, yang terkurung dalam tempurung imajinasi. Dia telah mewakili keinginan saya untuk menulis sebuah peristiwa yang terinspirasi dari jendala warung kopi dekat jalan raya. Merasa cukup dengan ceritanya. Seolah kutulis kisah itu.

Terlebih, narasinya tentang perempuan merokok. Menggelitik sekali. Bisa-bisanya dia melawan, atau kalau berlebihan, mengurangi saja, stigma negatif atas perempuan merokok. “Aku tidak membicarakan perempuan di luar sana. Aku adalah perempuan dan aku merokok”. Ini, kan, semacam argumen pilihan hidup; memesan, (atau) memilih takdir? “Ya, walaupun perempuan merokok sah-sah saja, hanya terkesan wrong –tidak pas.

“Urusanku di dunia ini, bukan mencari kebenaran dan kesalahan. Seandainya yang kulakukan salah setidaknya aku bisa membuatnya menjadi lebih baik meskipun untuk diriku sendiri.” Ketegasan untuk melakukan suatu hal tanpa mengusik orang lain, berprinsip dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan, tergambar jelas dalam narasi. Setidaknya, itulah jawaban atas pertanyaanku selama ini, kenapa perempuan merokok selalu di-judge negatif?

Pertanyaannya? Bagaimana kita bernegosiasi dengan Tuhan atas takdirnya?

“Dialog kepada Tuhan” sebagai judul sebelum judul akhir, kiranya merupakan representasi dari judul pada covernya. “Ada banyak hantu di dunia ini. Dan hantu tidak melulu menyoal ketakutan atau kisah horor. Ya, kenangan, kejadian yang telah lewat, bisa berubah rupa menjadi hantu. Hadir dengan sosok yang menakutkan sekaligus menyiksa. Siksa batin. Kejadian buruk di masa lalu dan terus teringat di masa mendatang itulah hantu nyata. Melalui celah kosong, bernama mimpi, ia meringsuk masuk. Mengoyak waktu istirahat. Membuat seseorang terjaga. Menjadikan kita seperti manusia yang menunggu ajalnya. Nafas terengah-engah, keringat bercucuran, badan menggigil kedinginan.”

Baca juga:   Jalan NU

Saya seperti membaca kisah sendiri. Banyak kenangan buruk sering kali hadir tanpa permisi. Menghidupkan rasa bersalah, dan ingin mengulangi tapi waktu tak berputar ke belakang. Menyakitkan. Akhirnya, dan sepertinya satu-satunya cara, adalah memohon, meminta pada Tuhan. Sang pemilik masa lalu dan masa depan. Saat rapal mantra, meditasi, bercerita, hanya berakhir sia-sia. Apalagi kalau bukan doa? Itulah momen terpenting. Takdir bisa kita negosiasikan dengan Tuhan. Meminta semua kembali normal.

Hidup seperti manusia kebanyakan, tanpa dihantui masa lalu yang seperti mencekik leher, mempercepat ajal. Barangkali doa berikut bisa ditiru untuk meredakan sakit yang disuguhkan oleh kenangan buruk, “Tuhan, aku manusia biasa. Aku tersiksa. Jangan permainkan aku lebih dari yang sudah dia lakukan. Engkaulah Tuhan, beri aku jalan.”

Pada akhirnya, kita bisa memesan takdir hidup kita.

Data Buku:

Judul: Perempuan yang Memesan Takdir
Penulis: W. Sanavero
Penerbit: Mojok
Tahun terbit: 2018
Jumlah halaman: vi + 102

Multi-Page

Tinggalkan Balasan